bytedaily
Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:43 WIB

BI Jelaskan Faktor Pelemahan Rupiah ke Rp18.012 per Dolar AS

Redaksi 29 September 2026 11 views
BI Jelaskan Faktor Pelemahan Rupiah ke Rp18.012 per Dolar AS
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Bank Indonesia (BI) menyampaikan sejumlah faktor yang menekan rupiah hingga menembus Rp18 ribu per dolar AS pada perdagangan Selasa (29/9). Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com melalui Bloomberg, rupiah berada di level Rp18.012 per dolar AS pada pukul 11.11 WIB, melemah 34 poin atau 0,19 persen dari perdagangan sebelumnya.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan pelemahan dipengaruhi kekhawatiran yang berlanjut terhadap tekanan inflasi global dan risiko fiskal. Tekanan tersebut sejalan dengan harga minyak dunia yang menembus US$108 per barel, sementara kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz belum tercapai. Kondisi ini turut mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat lebih lanjut.

Menurut Erwin, imbal hasil US Treasury (UST) tenor 10 tahun naik ke 5,23 persen, level tertinggi sejak 2007. Dari dalam negeri, kebutuhan valuta asing importir menjelang akhir kuartal III 2026 dan arus keluar dana dari portofolio negara-negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi juga menambah tekanan terhadap rupiah.

BI, kata Erwin, terus hadir di pasar untuk menjaga mekanisme pasar dan stabilitas rupiah agar tetap sesuai fundamental. Bank sentral juga mengelola struktur suku bunga di pasar uang melalui penguatan strategi operasi moneter yang pro-market serta menjaga kecukupan likuiditas.

BI meningkatkan insentif untuk instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) lindung nilai kepada BI dalam rangka pendanaan luar negeri. Intervensi juga akan dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. BI turut berkoordinasi dan berkomunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar.

Erwin menyebut pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang kawasan. Secara quarter-to-date (qtd), rupiah melemah 0,67 persen. Sementara itu, cadangan devisa Indonesia naik menjadi US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026. BI sebelumnya menyatakan jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor dan berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.