bytedaily - Melansir laporan ekonomi.republika.co.id, Wakil Menteri Koordinator bidang Perekonomian Dradjad Wibowo meminta investor tidak panik menyikapi pertimbangan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari pasar berkembang menjadi pasar tersendiri. Menurut Dradjad, MSCI bukan satu-satunya lembaga yang dapat menggambarkan kondisi pasar modal suatu negara.
Dradjad menyatakan MSCI memiliki reputasi tinggi dan informasinya perlu diperhatikan. Namun, ia mengingatkan bahwa lembaga tersebut tidak selalu benar. Pernyataan itu disampaikan di kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Ia mencontohkan kondisi saham yang direkomendasikan MSCI yang, menurutnya, justru negatif ketika indeks DAX di Jerman mengalami kenaikan. Dradjad juga menyebut simulasi yang menunjukkan imbal hasil MSCI kalah dibandingkan sejumlah alternatif lain.
Menurut Dradjad, hal itu antara lain berkaitan dengan komposisi MSCI yang didominasi saham Amerika Serikat hingga 70 persen dan saham teknologi sebesar 30 persen. Ia menilai investor perlu menghitung sendiri potensi saham, termasuk di pasar Indonesia.
Dradjad mengatakan fundamental ekonomi Indonesia berada dalam tren positif dan daya beli masyarakat tidak melemah. Ia memperkirakan pendapatan emiten sektor konsumer naik hampir enam persen pada kuartal III 2026, yang disebutnya sebagai indikator peningkatan konsumsi domestik.
Meski demikian, Dradjad menyatakan pasar modal Indonesia tetap perlu direformasi dan diperbaiki. Ia berharap investor bersikap lebih kritis agar tidak mudah panik ketika ada pengumuman dari lembaga pemeringkatan.