bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memperkirakan ekonomi global akan membaik pada 2027, setelah menghadapi tekanan dan ketidakpastian sepanjang 2026. Ia menyampaikan prospek tahun ini masih suram karena konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina belum mereda.
Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin (28/9), Destry mengatakan konflik berkepanjangan turut mendongkrak harga komoditas dunia, terutama minyak dan gas. Tekanan tersebut ikut mendorong inflasi global yang diperkirakan mencapai 4,6 persen.
Kenaikan inflasi membuat sejumlah bank sentral mengetatkan kebijakan moneter. Salah satunya Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, yang menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin pada September 2026. Tingginya suku bunga global juga mendorong aliran modal dari negara berkembang ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS dan emas.
Destry menyebut perpindahan tersebut sebagai flight to quality. Fenomena itu, menurutnya, dapat memengaruhi arus modal dan neraca pembayaran negara berkembang, termasuk Indonesia. Ia juga menilai situasi suku bunga tinggi dalam waktu lama akan menekan negara-negara berkembang.
Tekanan tersebut berpotensi mereda pada 2027 jika konflik geopolitik mulai berkurang. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia mencapai 3,4 persen pada 2027, naik dari sekitar 3 persen pada 2026. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan masing-masing 2,8 persen dan 2,5 persen, sedangkan IMF memperkirakan ekonomi global tumbuh 3,4 persen pada 2027, dibandingkan 3 persen pada 2026.