bytedaily - Melansir laporan ekonomi.republika.co.id, Bank Indonesia (BI) memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2–6 persen pada 2027, meningkat dari proyeksi pertumbuhan 4,9–5,7 persen pada 2026. Gubernur BI Destry Damayanti menyebut kenaikan investasi swasta, termasuk investasi Danantara, menjadi salah satu faktor yang diharapkan mendukung pertumbuhan tersebut.
Dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (28/9/2026), Destry menyampaikan bahwa BI memperkirakan kondisi ekonomi global dan domestik membaik pada 2027. Perbaikan itu diproyeksikan terjadi setelah 2026 yang diwarnai situasi suku bunga tinggi dalam waktu lama atau higher for longer.
Destry mengatakan prospek global pada 2026 masih menghadapi tantangan, tetapi sejumlah lembaga internasional dan BI memperkirakan keadaan pada 2027 lebih baik. Tantangan yang perlu diperhatikan mencakup konflik geopolitik, kebijakan moneter global yang ketat, serta kecenderungan investor mengalihkan dana ke aset yang dinilai lebih aman. Kondisi tersebut dapat memengaruhi neraca pembayaran dan stabilitas nilai tukar Indonesia, serta menekan aliran modal ke negara berkembang.
BI juga mencermati harga minyak dunia yang kembali melampaui 100 dolar AS per barel dan inflasi global yang mendorong pengetatan kebijakan moneter. Selain itu, kebijakan suku bunga The Fed dan penguatan indeks dolar AS berpotensi mendorong arus modal dari negara berkembang ke negara maju, terutama Amerika Serikat.
Di dalam negeri, Destry menilai sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru perlu diperkuat, dengan tetap mewaspadai risiko inflasi dan nilai tukar. Untuk merespons tantangan tersebut, BI akan menerapkan bauran kebijakan yang adaptif dan terintegrasi. Kebijakan moneter diarahkan untuk menjaga stabilitas, sedangkan kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran ditujukan untuk mendorong pertumbuhan.