bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, BMKG menyebut hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, yang dapat disertai petir dan angin kencang, masih berpotensi terjadi secara lokal di sejumlah wilayah Indonesia meski kondisi atmosfer secara umum cenderung kering.
Pada Dasarian I Oktober 2026, sekitar 79,65 persen wilayah Indonesia diprakirakan mengalami curah hujan kategori rendah, yakni 0–50 milimeter per dasarian. Sekitar 19,99 persen wilayah diprediksi masuk kategori menengah dengan curah hujan 50–150 milimeter, sedangkan 0,36 persen diperkirakan mengalami kategori tinggi, yaitu 150–300 milimeter.
Untuk Dasarian II Oktober 2026, BMKG memperkirakan curah hujan kategori rendah terjadi di sekitar 66,09 persen wilayah. Kategori menengah diprediksi mencakup 32,67 persen wilayah dan kategori tinggi sekitar 1,24 persen.
BMKG menyatakan El Nino dengan intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif memengaruhi kondisi atmosfer pada Dasarian II Oktober 2026. Kombinasi kedua fenomena itu cenderung menghambat pembentukan awan hujan dan mengurangi pasokan kelembapan di sejumlah wilayah.
Meski demikian, peluang hujan tetap ada karena dinamika atmosfer regional dan lokal. Aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial terpantau di sebagian kecil Kalimantan Utara, sementara zona perlambatan dan pertemuan angin diprakirakan terbentuk di Sumatra, Jawa bagian barat, Kalimantan, dan Papua. Suhu muka laut yang relatif hangat juga dapat mendukung peningkatan kelembapan serta pertumbuhan awan hujan di sebagian wilayah.