bytedaily - Melansir laporan cnnindonesia.com, para astronom mendeteksi semburan radio cepat atau fast radio burst (FRB) yang telah melintasi ruang angkasa selama lebih dari 10 miliar tahun sebelum mencapai Bumi. Sinyal bernama FRB 20240304B itu diperkirakan berasal dari masa ketika alam semesta berusia sekitar 3 miliar tahun dan menjadi FRB terjauh yang pernah tercatat—jaraknya sekitar dua kali rekor sebelumnya.
FRB merupakan semburan gelombang radio yang berlangsung dalam hitungan milidetik, tetapi dapat membawa energi setara dengan pancaran Matahari selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Fenomena ini pertama kali terdeteksi pada 2007 dan hingga kini belum diketahui secara pasti penyebabnya. Sebagian pihak pernah mengaitkannya dengan kemungkinan keberadaan alien.
Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Science, tim peneliti menggunakan teleskop radio MeerKAT di Afrika Selatan untuk mendeteksi sinyal tersebut. Mereka kemudian mengidentifikasi galaksi asalnya dengan bantuan teleskop ruang angkasa James Webb milik NASA.
Themiya Nanayakkara dari Universitas Sydney, salah satu peneliti utama, mengatakan ledakan yang menghasilkan sinyal itu terjadi sebelum Bumi dan Matahari terbentuk. Data James Webb menunjukkan FRB tersebut berasal dari galaksi muda berukuran sangat kecil yang membentuk bintang dengan cepat dan memiliki sedikit logam di sekitarnya.
Salah satu teori menyebut FRB dapat bersumber dari magnetar, yakni bintang neutron dengan medan magnet yang sangat kuat. Nanayakkara mengatakan berbagai mekanisme yang mungkin menghasilkan FRB menunjukkan bahwa semburan tersebut dapat muncul di galaksi yang sangat muda dengan kandungan logam rendah.
Sejak 2007, lebih dari 10 ribu FRB telah terdeteksi. Sebagian berulang secara terus-menerus, sebagian lain berulang untuk sementara lalu berhenti, sementara beberapa hanya teramati sekali. Para peneliti belum dapat memastikan apakah FRB 20240304B akan kembali menghasilkan sinyal.
Nanayakkara menjelaskan bahwa pengamatan FRB dapat membantu ilmuwan memetakan materi tak terlihat di alam semesta jauh. Matthew Bailes, profesor dari Swinburne University yang turut dikenal sebagai salah satu penemu awal FRB, menyebut temuan ini menegaskan kemampuan FRB untuk menyelidiki alam semesta. Menurutnya, sinyal tersebut juga dapat digunakan untuk menghitung jumlah atom di alam semesta karena dipengaruhi partikel yang dilaluinya.