bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan puncak fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi pada Desember 2026 atau Januari 2027 berpotensi melampaui kategori kuat. Fenomena ini diprediksi akan berlangsung setidaknya hingga kuartal pertama tahun 2027.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, telah menyampaikan temuan ini kepada Presiden Prabowo Subianto dalam sebuah rapat terbatas. Menurutnya, El Nino kali ini akan memberikan dampak yang signifikan bagi Indonesia, terutama karena sejumlah wilayah akan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus mendatang.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa kekuatan El Nino saat ini telah melebihi ambang batas kategori kuat. Hal ini terdeteksi dari indeks Nino 3.4 di Pasifik yang menunjukkan suhu permukaan laut telah melampaui 1,56°C, melebihi threshold kategori kuat yang ditetapkan di atas 1,5°C.
Bersamaan dengan itu, indeks di Samudra Hindia tercatat negatif (-0,38), mengindikasikan adanya potensi signifikan terjadinya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) yang dapat memperparah pemanasan global, seringkali berjalan beriringan dengan El Nino.
Ardhasena menekankan bahwa dampak El Nino di Indonesia sangat bergantung pada kondisi musim kemarau dan suhu laut di sekitar perairan Indonesia. BMKG memprediksi musim kemarau di Indonesia akan berakhir pada Oktober 2026. Ia juga menambahkan bahwa tidak ada dua kejadian El Nino yang identik, baik dalam kekuatan maupun dampaknya.