bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan bahwa puncak musim kemarau tahun 2026 akan mulai terjadi pada bulan Juli di sejumlah daerah di Indonesia. Sebanyak 83 zona musim (ZOM) atau setara dengan 12,26 persen dari total wilayah Indonesia diprediksi akan memasuki periode puncak kemarau pada bulan ini.
Wilayah-wilayah yang diperkirakan akan mengalami puncak musim kemarau pada Juli 2026 meliputi sebagian Sumatra, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, bagian selatan Nusa Tenggara Timur, bagian utara Sulawesi Barat, bagian barat Sulawesi Tengah, sebagian kecil Maluku, bagian selatan Papua Barat Daya, bagian tengah Papua Barat, serta bagian timur Papua. Informasi ini tercantum dalam prakiraan BMKG mengenai Potensi Hujan Indonesia Sepekan ke Depan untuk periode 3-9 Juli.
Meskipun sebagian wilayah telah memasuki puncak musim kemarau, BMKG menyatakan bahwa dinamika atmosfer pada skala regional dan lokal masih berpotensi mendukung terbentuknya awan hujan di beberapa lokasi. Gelombang Kelvin yang bergerak ke arah timur diprediksi aktif di Sumatra bagian utara, sebagian Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Pesisir Utara Sulawesi.
Sementara itu, Gelombang Rossby Ekuatorial yang bergerak ke arah barat juga diperkirakan masih aktif dan berpotensi mendukung pertumbuhan awan hujan di sebagian wilayah Kalimantan Utara, pesisir utara Sulawesi, pesisir utara Maluku dan Papua, sebagian Aceh, Sumatra Utara, sebagian Jawa bagian barat, pesisir utara Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta Papua Selatan. Selain itu, kombinasi antara MJO dan Gelombang Kelvin diprediksi aktif di wilayah Perairan utara Aceh, Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Riau.
BMKG menjelaskan bahwa peluang hujan di tengah meluasnya musim kemarau juga dipengaruhi oleh adanya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Sumatra Barat dan di Samudra Pasifik utara Papua. Kondisi atmosfer lokal di sejumlah wilayah, seperti Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua, dan Papua Tengah, juga menunjukkan labilitas yang cukup mendukung proses konveksi.
Kombinasi dari berbagai faktor tersebut membuat hujan masih berpotensi terjadi di beberapa wilayah Indonesia dalam beberapa hari mendatang, meskipun secara umum sebagian wilayah telah memasuki periode musim kemarau. BMKG juga memprediksi bahwa puncak musim kemarau terluas akan terjadi pada Agustus 2026, mencakup 369 Zona Musim (ZOM) atau 48,84 persen dari luas daratan Indonesia. Selanjutnya, pada September 2026, puncak musim kemarau diprediksi terjadi di 169 ZOM atau 25,41 persen luas daratan Indonesia.