bytedaily - Melansir laporan dari rctiplus.com, Pentagon menunjuk Boeing untuk membuat jet tempur generasi berikutnya bagi Angkatan Laut Amerika Serikat melalui kontrak senilai USD20 miliar.
Menurut pernyataan resmi Pentagon, kontrak itu mencakup pembuatan pesawat F/A-XX atau pesawat tempur serang dalam program Next-Generation Air Dominance. Pesawat baru tersebut dirancang untuk menggantikan armada Super Hornet yang akan mulai dipensiunkan secara bertahap pada 2030-an.
Penunjukan ini menjadi kali kedua Boeing mendapat tugas dari Pentagon pada masa jabatan kedua Presiden Donald Trump untuk mengembangkan sistem persenjataan generasi keenam. Sebelumnya, perusahaan itu memperoleh kontrak jet tempur siluman untuk Angkatan Udara AS pada Maret 2025.
Kepala divisi Pertahanan, Antariksa & Keamanan Boeing, Steve Parker, menyatakan perusahaan siap mengembangkan dua jet tempur canggih secara bersamaan, sesuai investasi dan rencana yang telah disusun. Wakil Menteri Pertahanan Michael Duffey menyebut F/A-XX sebagai investasi penting bagi keamanan nasional dan kemampuan tempur udara AS dalam jangka panjang.
Boeing mengatakan pekerjaan konstruksi sedang berlangsung di fasilitas manufaktur berkeamanan tinggi miliknya di St. Louis. Sementara itu, informasi teknis dan rincian program F/A-XX dirahasiakan berdasarkan undang-undang keamanan nasional dan ekspor AS. Boeing terpilih setelah bersaing dengan Northrop Grumman, yang juga mengajukan desain jet tempur generasi keenam berbasis teknologi digital.
Pada Mei 2026, Kepala Operasi Angkatan Laut AS Laksamana Daryl Caudle menyampaikan kepada Senat bahwa sistem baru itu diperlukan untuk meningkatkan jangkauan dan presisi tempur serta bekerja bersama sistem tanpa awak. Ia juga memperingatkan bahwa keterlambatan penerapan kemampuan penerbangan berbasis kapal induk generasi berikutnya dapat menimbulkan risiko bagi keunggulan udara dan kelangsungan operasi militer.
Setelah pengumuman kontrak, saham Boeing naik 2,4 persen dalam perdagangan di luar jam bursa, sedangkan saham Northrop Grumman turun 3,6 persen.