bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, pendiri Evergrande Group, Hui Ka Yan, telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan China. Selain itu, seluruh aset pribadi taipan berusia 67 tahun tersebut juga akan disita.
Vonis ini dijatuhkan setelah Hui Ka Yan mengakui bersalah atas delapan dakwaan pada April 2026. Dakwaan tersebut meliputi penyalahgunaan dana, penipuan dalam penggalangan dana, penghimpunan dana publik secara ilegal, penyaluran pinjaman ilegal, penerbitan sekuritas palsu, hingga tindak penyuapan.
Dalam persidangan, hakim menyatakan bahwa tindakan kriminal yang dilakukan oleh Evergrande Group, Hengda Real Estate, dan Hui Ka Yan melibatkan jumlah dana yang sangat besar, menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan, serta berdampak serius pada sosial, sehingga menuntut hukuman berat.
Selain hukuman pidana terhadap Hui, pengadilan juga menjatuhkan denda sebesar 8,82 miliar yuan atau sekitar US$1,31 miliar kepada Evergrande. Anak perusahaan utamanya, Hengda Real Estate, didenda 7 miliar yuan.
Sebanyak lima eksekutif senior Evergrande lainnya juga menerima vonis penjara dengan durasi antara enam hingga 18 tahun. Laporan dari CCTV China menyebutkan bahwa total 56 orang yang terkait dengan kasus Evergrande menerima vonis pada hari yang sama.
Sebelum keruntuhan bisnisnya, Hui Ka Yan pernah tercatat sebagai salah satu taipan terkaya di dunia. Ia mendirikan Evergrande pada tahun 1996 dan berhasil menjadikannya pengembang properti terbesar di China berdasarkan penjualan kontrak, yang didorong oleh ekspansi agresif dengan dukungan utang.
Pada tahun 2017, kekayaan bersih Hui mencapai US$45,3 miliar, menjadikannya orang terkaya di Asia menurut Forbes. Namun, kekayaannya anjlok seiring krisis likuiditas yang melanda Evergrande dan gagal bayar utang yang mencapai sekitar US$300 miliar.
Sebagai catatan, Pengadilan Hong Kong telah memerintahkan likuidasi Evergrande pada tahun 2024, dan saham perusahaan tersebut dihapus dari Bursa Efek Hong Kong pada tahun 2025. Proses likuidasi berjalan lambat, dengan baru sekitar US$255 juta aset yang terjual hingga Agustus 2025, sementara klaim kreditur mencapai sekitar US$45 miliar.
Di luar China daratan, likuidator Evergrande juga sedang berupaya membekukan aset Hui dan mantan istrinya di luar negeri untuk menarik kembali sekitar US$6 miliar dalam bentuk dividen dan kompensasi yang sebelumnya telah dibayarkan kepada Hui serta sejumlah mantan eksekutif.
Sebelumnya, pada tahun 2024, regulator sekuritas China juga telah menjatuhkan denda US$6,6 juta kepada Hui dan melarangnya beraktivitas di pasar sekuritas seumur hidup, setelah terbukti memanipulasi laporan pendapatan dan melakukan penipuan sekuritas melalui unit utamanya.
Runtuhnya Evergrande pada tahun 2021 menjadi salah satu pemicu utama krisis di sektor properti China, yang berdampak luas pada investor obligasi global hingga perbankan domestik. Kegagalan perusahaan ini juga sempat memicu protes dari investor ritel yang kehilangan tabungan mereka akibat gagal bayar produk manajemen kekayaan bernilai miliaran dolar.