bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menduga fenomena pencampuran kolom air menjadi penyebab kematian massal ikan di Danau Batur, Bali. Peristiwa ini diperkirakan menyebabkan kematian sekitar 25 ton ikan budidaya akibat letupan belerang.
Menurut peneliti biogeokimia BRIN, Sulung Nomosatryo, timnya menemukan kadar oksigen terlarut di permukaan danau turun drastis hingga mendekati 0 mg/L saat kejadian. Selain itu, tercium bau menyengat hidrogen sulfida (H2S), yang mengindikasikan naiknya air dari lapisan dasar danau ke permukaan.
Sulung menjelaskan bahwa lapisan dasar danau secara alami memiliki kandungan oksigen rendah akibat dekomposisi bahan organik dan akumulasi senyawa sulfida. Ketika terjadi pencampuran massa air, air miskin oksigen ini naik ke permukaan, membawa sulfida yang dalam kondisi tertentu bisa berubah menjadi hidrogen sulfida, bentuk yang sangat beracun bagi ikan.
Meskipun bau H2S mengindikasikan kemungkinan terangkatnya air dari lapisan bawah, Sulung menekankan bahwa sulfida belum tentu menjadi satu-satunya penyebab kematian ikan. Analisis laboratorium terhadap seluruh parameter kualitas air diperlukan untuk memahami secara utuh penyebab kejadian ini.
Peneliti hidrodinamika danau BRIN, Arianto Budi Santoso, menambahkan bahwa Danau Batur, sebagai danau vulkanik, memiliki kandungan senyawa sulfur yang relatif tinggi. Dalam kondisi tanpa oksigen, senyawa sulfat di dasar danau dapat berubah menjadi sulfida. Proses pencampuran air kemudian membawa sulfida ke lapisan beroksigen, di mana ia teroksidasi kembali menjadi sulfat, sekaligus mengonsumsi cadangan oksigen terlarut.
Arianto menyebutkan bahwa periode pencampuran kolom air di Danau Batur umumnya terjadi pada bulan Juni-Agustus, akhir Desember, dan Februari. Ia juga mengemukakan bahwa dampak pencampuran kolom air tidak selalu sama, dipengaruhi oleh kondisi cuaca, karakteristik fisik danau, kualitas air, serta kondisi ekosistem saat pencampuran berlangsung.