bytedaily
Senin, 18 Mei 2026 - 19:19 WIB

Buku Baru Ungkap Hambatan Ekonomi bagi Penulis Kelas Pekerja

Redaksi 18 Mei 2026 6 views
Buku Baru Ungkap Hambatan Ekonomi bagi Penulis Kelas Pekerja
Ilustrasi visual (Sumber: bbc.com)

bytedaily - Dilansir dari bbc.com, seorang jurnalis menerbitkan sebuah buku yang mengupas kesulitan yang dihadapi oleh penulis dari kalangan kelas pekerja, menyusul pengalamannya sendiri yang terpaksa keluar dari industri kreatif akibat tingginya biaya.

Kate Pasola, yang berasal dari Prudhoe, Northumberland, menyatakan bahwa ia sangat memahami adanya 'langit-langit kelas' dalam dunia penulisan. Ia sempat meyakini bahwa kerja keras dan magang akan berbuah kesuksesan. Namun, menurutnya, seiring berjalannya karir, ia menyadari banyak orang yang terpaksa meninggalkan impian mereka karena tidak mampu membiayai perjalanan tersebut.

Data dari The Creative Mentor Network menunjukkan penurunan separuh jumlah individu dari kelas pekerja di sektor kreatif sejak tahun 1970-an. Sementara itu, survei The Sutton Trust mengungkap bahwa hanya 10% penulis yang berasal dari latar belakang kelas pekerja.

Pasola, yang sempat meninggalkan industri jurnalisme karena krisis biaya hidup, mengaku mulai menyadari adanya hambatan sosioekonomi sejak masa kuliah. Ia merasa dikelilingi oleh mahasiswa yang mayoritas bersekolah di sekolah swasta dan tidak menunjukkan ketertarikan padanya setelah mengetahui latar belakangnya. "Mereka akan bertanya sekolah mana yang saya datangi, dan ketika saya menjawab 'sekolah negeri biasa', mata mereka langsung terlihat kosong," ujarnya.

Buku Pasola yang berjudul 'Bread Alone: What Happens When We Run Out of Working-Class Writers' merupakan kumpulan 33 esai yang mengupas hambatan institusional yang dihadapi oleh individu dari latar belakang ekonomi rendah. "Ketika ada kesempatan untuk mengkurasi kumpulan esai, kata pertama yang terlintas di benak saya adalah 'kelas'," ungkapnya. Ia menambahkan bahwa ia selalu ingin karya tersebut mencakup beragam suara dengan perspektif berbeda mengenai topik tersebut, mengingat isu ini sangat multifaset di Inggris maupun global.

Sebuah survei dari majalah bisnis The Bookseller menemukan hampir 80% individu dari kelas pekerja merasa kelas sosialnya berdampak negatif pada karir mereka. Organisasi amal seperti New Writing North yang berbasis di Newcastle berupaya mendobrak hambatan tersebut. Pendirinya, Claire Malcolm, menyebutkan tekanan tambahan seperti krisis biaya hidup semakin mempersulit orang-orang yang ingin menembus industri ini.

"Saya pikir banyak orang yang menyerah sejak awal karena mereka tidak melihat panutan atau orang yang mirip dengan mereka di tempat-tempat yang mereka lihat," kata Malcolm. Tahun lalu, New Writing North meluncurkan 'The Bee', sebuah publikasi sastra yang berfokus pada pengalaman kelas pekerja, yang didanai melalui program 'A Writing Chance'.

Bagi Malcolm, penting agar suara-suara ini terdengar karena mencerminkan siapa saja yang dianggap layak untuk berkontribusi dalam pembentukan budaya di suatu negara. "Kita tidak melihat suara kelas pekerja atau suara dari wilayah Utara terwakili dengan baik di media nasional, dan itu menciptakan defisit," ujarnya. Ia menekankan bahwa tanpa platform untuk menceritakan kisah-kisah tersebut, lanskap budaya akan menjadi datar dan homogen. "Kadang-kadang kita terjebak dalam pembicaraan tentang mengapa kita perlu memasukkan orang-orang dari Timur Laut, atau orang-orang dari latar belakang kelas pekerja, demi 'seni', tetapi suara-suara dari latar belakang kelas pekerja selalu memperkaya budaya karena mereka memiliki cerita yang berbeda untuk diceritakan," pungkasnya.


Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi bbc.com.