bytedaily - Kementerian Luar Negeri China meningkatkan kritiknya terhadap serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz, jalur krusial bagi seperempat suplai minyak mentah dunia. Juru bicara Guo Jiakun menegaskan penolakan Beijing terhadap serangan di kawasan Teluk dan mengutuk segala bentuk serangan terhadap warga sipil dan target non-militer, meskipun tidak secara eksplisit menyebut nama Iran.
Pernyataan ini menandai pergeseran sikap China, yang selama ini merupakan mitra dagang dan pembeli minyak terbesar Iran. Kekhawatiran China muncul seiring meluasnya konflik dengan serangan rudal dan drone Iran ke negara tetangga dan potensi blokade Selat Hormuz. China mendesak semua pihak untuk segera menghentikan eskalasi demi mengamankan keamanan energi global.
Guo menekankan pentingnya kepatuhan terhadap hukum internasional dan norma dasar hubungan internasional untuk mencapai stabilitas kawasan, demi menjaga kepentingan ekonomi China di Timur Tengah. Data menunjukkan Iran diduga bertanggung jawab atas sejumlah serangan terhadap kapal sipil di perairan tersebut.
Situasi ini terjadi di tengah ancaman Korps Garda Revolusi Iran yang bersumpah akan melumpuhkan ekonomi lawan dengan menutup akses navigasi di Selat Hormuz. Sementara itu, seorang mantan pejabat AS menilai China berupaya menyeimbangkan berbagai kepentingan regionalnya tanpa memihak sepenuhnya pada satu pihak yang dapat merusak hubungan lainnya.