bytedaily - Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu penutupan Selat Hormuz bukan hanya berdampak pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), tetapi juga merembet ke berbagai sektor ekonomi lainnya. Kenaikan rata-rata harga bensin RON 92 di Amerika Serikat dilaporkan melonjak lebih dari 27% sejak perang dimulai. Namun, kenaikan harga solar jauh lebih signifikan, dengan peningkatan mencapai $1.42 per galon dalam sebulan terakhir.
Dampak tersebut diperkirakan akan memperparah inflasi. Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengindikasikan bahwa perang ini akan mendorong inflasi lebih tinggi. Analisis Nationwide memprediksi inflasi bisa mencapai 4.4% dalam beberapa bulan mendatang, naik dari 2.4% pada bulan Februari. Kenaikan harga ini tidak hanya terbatas pada sektor energi, tetapi juga mempengaruhi rantai pasok global, termasuk bahan baku untuk makanan, produk kemasan, hingga obat-obatan, serta berpotensi menaikkan biaya tiket pesawat dan suku bunga KPR.