bytedaily - Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia memberikan dukungan penuh kepada Kementerian Pertanian (Kementan) dalam upaya memperkuat program inseminasi buatan (IB). Langkah strategis ini diharapkan mampu mendongkrak mutu genetik ternak, meningkatkan produktivitas peternak, serta secara berkelanjutan memperkokoh ketahanan pangan nasional melalui layanan reproduksi ternak yang lebih baik.
Ketua Komite II DPD RI, Angelius Wake Kako, menekankan bahwa inseminasi buatan merupakan isu krusial yang memiliki kaitan langsung dengan stabilitas pangan nasional. Penegasan ini disampaikan saat kunjungan kerja ke Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang, Jawa Barat, di mana ia turut berpartisipasi dalam pelatihan bagi petugas IB. Meskipun IB memiliki potensi besar, Angelo menyoroti tantangan yang ada, seperti rendahnya adopsi teknologi oleh peternak, keterbatasan jumlah dan kapasitas sumber daya manusia (inseminator), serta kendala distribusi semen beku ke berbagai wilayah di Indonesia. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan sinergi yang lebih kuat antara pemerintah pusat, daerah, dan seluruh pemangku kepentingan, serta penyusunan kebijakan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan peternak.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menambahkan bahwa sektor peternakan memegang peranan vital dalam menyediakan protein hewani untuk mendukung ketahanan pangan, yang menjadi salah satu prioritas pembangunan. Meskipun Indonesia telah mencapai surplus pada produksi daging ayam dan telur, kebutuhan daging sapi dan kerbau pada tahun 2026 diproyeksikan masih sekitar 50 persen dari total kebutuhan nasional, sementara produksi susu segar dalam negeri baru memenuhi sekitar 20 persen. Oleh karena itu, pemerintah terus berupaya meningkatkan populasi dan produktivitas ternak ruminansia melalui penerapan teknologi IB yang bertujuan memperbaiki mutu genetik, meningkatkan angka kelahiran, mengoptimalkan penggunaan pejantan unggul, dan mencegah penyebaran penyakit.