bytedaily
Senin, 19 Oktober 2026 - 10:55 WIB

Erupsi Gunung Anak Krakatau Tak Berpotensi Tsunami, Berbeda dengan Peristiwa 2018

Redaksi 06 September 2026 4 views
Erupsi Gunung Anak Krakatau Tak Berpotensi Tsunami, Berbeda dengan Peristiwa 2018
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang dilaporkan sejak Jumat (4/9) dipastikan tidak memiliki potensi untuk menimbulkan gelombang tsunami, berbeda dengan kejadian pada tahun 2018. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan adanya perbedaan signifikan antara kondisi fisik Gunung Anak Krakatau saat ini dengan struktur gunung sebelum terjadinya tsunami 2018.

Menurut Kepala Badan Geologi, Lana Saria, tidak semua erupsi Gunung Anak Krakatau dapat memicu tsunami. Ia menegaskan bahwa tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 utamanya disebabkan oleh keruntuhan sebagian besar tubuh gunung api ke laut, bukan semata-mata akibat kolom erupsi.

Pernyataan Badan Geologi ini didukung oleh hasil pemantauan dan analisis dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). BMKG menyatakan bahwa potensi terjadinya tsunami akibat erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini berada dalam kategori rendah. Hingga Minggu (6/9) pukul 07.00 WIB, pemantauan 20 tsunami gauge di sekitar Selat Sunda belum mendeteksi adanya anomali pada muka air laut.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam konferensi pers daring pada Minggu (6/9) menyatakan bahwa hingga saat itu, belum terpantau adanya anomali muka air laut melalui 20 tsunami gauge yang dimiliki BMKG di sekitar Selat Sunda. Selain itu, pemantauan menggunakan high frequency radar di Carita dan Tanjung Lesung juga menunjukkan probabilitas terjadinya tsunami masih rendah.

Meskipun kondisi air laut terpantau normal, BMKG tetap meningkatkan pengawasan di pesisir Banten dengan memaksimalkan radar pemantau gelombang di Carita dan Tanjung Lesung. Radar tersebut telah diatur dalam mode tsunami untuk dapat mendeteksi potensi tsunami sejak jarak sekitar 150 km dari tepi pantai. BMKG juga mengintegrasikan berbagai data pemantauan, termasuk dari satelit, tsunami gig, high frequency radar, sensor geomagnetic, dan pemantauan petir vulkanik, untuk analisis yang terpadu demi mendukung pengambilan keputusan yang cepat dan akurat.

Lana Saria kembali menjelaskan bahwa pemicu utama tsunami pada 2018 adalah longsoran skala besar dari dinding gunung yang runtuh ke laut. Saat ini, struktur fisik gunung dinilai lebih kokoh dan stabil. Ia menambahkan bahwa morfologi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dibandingkan sebelum peristiwa 2018, di mana sebagian besar tubuh gunung pada sisi tertentu telah runtuh dan kemudian mengalami pertumbuhan serta perubahan morfologi kembali akibat aktivitas erupsi berikutnya.

Berdasarkan evaluasi dan pemantauan data geologi terkini, bentuk kawah utama serta tubuh gunung pasca-runtuhan 2018 dikategorikan aman dari risiko longsoran besar. Proses pembentukan kembali tubuh gunung setelah erupsi 2018 belum mencapai volume kritis yang dapat membahayakan perairan di sekitarnya.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.