bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak Jumat (4/9) dipastikan tidak menimbulkan potensi tsunami seperti yang pernah terjadi pada tahun 2018.
Menurut Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), terdapat perbedaan signifikan antara kondisi fisik Gunung Anak Krakatau saat ini dengan kondisi sebelum tsunami 2018.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 disebabkan oleh keruntuhan sebagian besar tubuh gunung api ke laut, bukan semata-mata akibat kolom erupsi. Ia menegaskan bahwa tidak setiap erupsi Gunung Anak Krakatau akan memicu tsunami.
Pernyataan ini diperkuat oleh analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyatakan potensi tsunami akibat erupsi saat ini masih dalam kategori rendah.
Hingga Minggu (6/9) pukul 07.00 WIB, pemantauan 20 tsunami gauge di Selat Sunda belum menunjukkan adanya anomali pada muka air laut. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengonfirmasi bahwa potensi tsunami belum terpantau melalui alat-alat tersebut.
Selain itu, pemantauan menggunakan high frequency radar di Carita dan Tanjung Lesung juga menunjukkan probabilitas terjadinya tsunami masih rendah. BMKG tetap memperketat pengawasan di pesisir Banten dengan memaksimalkan radar pemantau gelombang, yang telah diatur dalam mode tsunami untuk mendeteksi potensi sejak jarak 150 km dari pantai.
BMKG juga mengoptimalkan pemantauan multi-instrumen, termasuk satelit, tsunami gig, high frequency radar, sensor geomagnetic, dan pemantauan petir vulkanik, untuk analisis data yang terpadu guna mendukung pengambilan keputusan yang cepat dan akurat.
Lana Saria kembali menjelaskan bahwa pemicu utama tsunami 2018 adalah longsoran skala masif dari dinding gunung yang runtuh ke laut. Saat ini, struktur fisik gunung dinilai jauh lebih kokoh dan stabil. Morfologi Gunung Anak Krakatau telah mengalami perubahan dan pertumbuhan kembali akibat aktivitas erupsi berikutnya, namun bentuk dasar tubuh gunung dan kawah utamanya relatif tidak menunjukkan perubahan signifikan yang jelas dibandingkan pemantauan sebelumnya.
Proses pembentukan kembali tubuh gunung pasca-erupsi 2018 belum mencapai volume kritis yang dapat membahayakan perairan sekitarnya.