bytedaily - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin menajam dengan ultimatum keras dari Amerika Serikat kepada Iran terkait Selat Hormuz, sebuah jalur perdagangan energi yang krusial.
Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang dan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika negara tersebut tidak membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Ancaman ini menyusul maraknya gangguan di jalur vital yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Situasi ini sontak mendorong lonjakan harga energi global, dengan harga gas Eropa dilaporkan melonjak 35% dalam sepekan. Merespons tekanan AS, militer Iran memperingatkan akan membalas dengan menyerang infrastruktur strategis Amerika Serikat dan sekutunya jika fasilitas energi Iran menjadi target.
Eskalasi ancaman yang kini menyasar infrastruktur sipil vital seperti listrik dan pasokan air ini menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya "perang energi". Gangguan di Selat Hormuz telah mendorong banyak kapal untuk menghindari jalur tersebut, memperbesar risiko pasokan energi global dan berpotensi memicu guncangan pasar energi, kenaikan harga minyak dan gas, serta inflasi global.