bytedaily - Konflik geopolitik di Timur Tengah telah menimbulkan konsekuensi ekonomi yang signifikan di Jepang, ditandai dengan penurunan drastis kapasitas kilang minyak dan stok bahan bakar, yang berujung pada lonjakan harga bensin.
Data terbaru dari Asosiasi Perminyakan Jepang menunjukkan utilisasi kilang merosot ke angka 69,1% pada pekan yang berakhir 14 Maret 2026, jauh di bawah rata-rata normal di atas 80%. Penurunan stok bahan bakar minyak (BBM) turut mengkhawatirkan, dengan stok bensin anjlok hampir 10%, minyak tanah 12%, bahan bakar jet 3%, dan solar 1%.
Meskipun demikian, stok gas alam cair (LNG) justru menunjukkan tren yang berlawanan, meningkat berkat peningkatan cadangan perusahaan utilitas besar. Namun, dampak pada harga energi fosil terasa jelas. Harga rata-rata bensin melonjak menjadi 190,8 yen per liter pada 16 Maret, kenaikan 18% yang mencetak rekor tertinggi sejak 2022.
Dalam upaya mitigasi, pemerintah Jepang akan memberlakukan subsidi tarif bensin sebesar 30,2 yen per liter mulai 19 Maret. Perdana Menteri Sanae Takaichi berkomitmen menjaga harga rata-rata bensin di kisaran 170 yen per liter dan memerintahkan pelepasan sebagian cadangan minyak darurat untuk menstabilkan pasokan domestik. Strategi ini termasuk penggunaan minyak mentah dari cadangan darurat yang akan mengurangi stok nasional sebesar 17%.