bytedaily - Permintaan dana sebesar US$200 miliar (Rp 3.400 triliun) dari Pentagon untuk membiayai potensi operasi militer terhadap Iran telah memicu keprihatinan serius mengenai dampaknya terhadap stabilitas ekonomi global dan pasar energi. Angka fantastis ini diperkirakan akan menghadapi resistensi signifikan di Capitol Hill, namun mencerminkan kesiapan pemerintahan AS untuk konflik berkepanjangan.
Konflik yang meningkat antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah menyebabkan fluktuasi tajam pada harga minyak global. Serangan terbaru terhadap infrastruktur energi utama Iran dan Qatar sempat mendorong kenaikan harga minyak sebelum akhirnya mereda. Presiden Donald Trump sendiri mengakui bahwa eskalasi militer ini, meskipun dianggap perlu, dapat menyebabkan kenaikan harga minyak lebih lanjut dan perlambatan ekonomi.
Meskipun Trump berupaya meredakan kekhawatiran dengan mengatakan bahwa permusuhan mungkin segera berakhir, pergerakan pasukan dan permintaan dana besar menunjukkan adanya perencanaan untuk operasi yang lebih luas. Pentagon melaporkan bahwa enam hari pertama operasi saja telah menelan biaya lebih dari US$11,3 miliar, mengindikasikan besarnya pengeluaran yang dibutuhkan untuk kampanye militer.
Wacana operasi lanjutan, termasuk potensi pengambilalihan Pulau Kharg yang vital bagi ekspor minyak Iran atau perebutan situs nuklir di Isfahan, secara implisit memerlukan pengerahan pasukan darat yang signifikan. Pergerakan 2.500 Marinir dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 ke Timur Tengah semakin memperkuat spekulasi mengenai kemungkinan serangan darat berskala besar.