bytedaily
Sabtu, 22 Agustus 2026 - 12:43 WIB

Gerhana Bulan Sebagian Akan Terjadi 27-28 Agustus 2026, Tidak Terlihat di Indonesia

Redaksi 22 Agustus 2026 1 views
Gerhana Bulan Sebagian Akan Terjadi 27-28 Agustus 2026, Tidak Terlihat di Indonesia
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, fenomena gerhana Bulan sebagian diprediksi akan terjadi pada tanggal 27 hingga 28 Agustus 2026. Gerhana ini dapat disaksikan dari berbagai wilayah di dunia, namun sayangnya tidak termasuk Indonesia.

Menurut informasi dari cnnindonesia.com, gerhana Bulan sebagian merupakan peristiwa ketika Bumi berada di antara Matahari dan Bulan pada fase purnama, meskipun ketiganya tidak sejajar sempurna. Kondisi ini menyebabkan sebagian besar permukaan Bulan tertutup oleh umbra atau bayangan utama Bumi. Dalam gerhana kali ini, diperkirakan sekitar 96 persen permukaan Bulan akan terhalang oleh bayangan Bumi.

Fenomena gerhana Bulan sebagian ini dapat diamati dari kawasan Amerika Utara, Amerika Selatan, Afrika, dan Eropa. Berdasarkan data Time and Date yang dikutip Space, umbra Bumi mulai menyentuh permukaan Bulan pada 27 Agustus pukul 22.33 EDT atau 28 Agustus pukul 09.33 WIB. Puncak gerhana akan terjadi pada 28 Agustus pukul 00.12 EDT atau 11.12 WIB. Pada saat puncak gerhana, bayangan Bumi akan menutupi hampir seluruh Bulan, menyisakan sedikit bagian yang masih terkena cahaya Matahari langsung.

Saat gerhana berlangsung, bagian Bulan yang berada dalam bayangan Bumi berpotensi terlihat berwarna kemerahan atau jingga. Perubahan warna ini disebabkan oleh pembelokan cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi menuju permukaan Bulan, sebuah mekanisme yang juga bertanggung jawab atas tampilan Bulan merah pada gerhana Bulan total atau 'Blood Moon'.

Meskipun setiap fase gerhana Bulan terjadi pada waktu yang sama untuk semua pengamat di sisi malam Bumi yang bisa melihat Bulan, waktu lokal pengamatan akan bervariasi tergantung pada lokasi geografis. Di wilayah Pantai Barat Amerika Serikat, puncak gerhana akan terjadi tak lama setelah tengah malam pada 27-28 Agustus. Sementara itu, pengamat di Inggris akan menyaksikan fase maksimum sesaat sebelum Matahari terbit pada 28 Agustus, saat Bulan masih rendah di cakrawala barat daya.

Berbeda dengan gerhana Matahari, pengamatan gerhana Bulan tidak memerlukan perlindungan mata khusus. Pengamat dapat menyaksikan fenomena ini secara langsung tanpa risiko cedera mata akibat paparan cahaya Matahari. Namun, penggunaan binokular atau teleskop dapat meningkatkan kualitas pengamatan dengan memberikan pandangan yang lebih jelas terhadap pergerakan bayangan Bumi di permukaan Bulan.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.