bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, sebuah fenomena gerhana Bulan sebagian diprediksi akan terjadi pada tanggal 27 hingga 28 Agustus 2026. Gerhana ini dapat disaksikan di berbagai wilayah di dunia.
Menurut informasi dari cnnindonesia.com, gerhana Bulan sebagian terjadi ketika Bumi melintas di antara Matahari dan Bulan saat fase purnama, namun ketiganya tidak sejajar sempurna. Akibatnya, sebagian besar permukaan Bulan akan tertutup oleh umbra atau bayangan utama Bumi. Pada gerhana kali ini, diperkirakan sekitar 96 persen permukaan Bulan yang terlihat akan tertutup oleh bayangan Bumi.
Fenomena gerhana Bulan sebagian tersebut dapat diamati dari sebagian besar wilayah Amerika Utara, Amerika Selatan, Afrika, dan Eropa. Sayangnya, masyarakat di Indonesia tidak akan dapat menyaksikan gerhana ini. Berdasarkan data dari Time and Date yang dikutip Space, umbra Bumi mulai menutupi permukaan Bulan pada 27 Agustus pukul 22.33 EDT atau 28 Agustus pukul 09.33 WIB. Puncak gerhana diperkirakan terjadi pada 28 Agustus pukul 00.12 EDT atau 11.12 WIB.
Saat fase puncak, bayangan Bumi akan hampir sepenuhnya menutupi Bulan, hanya menyisakan sedikit bagian yang masih terkena cahaya Matahari secara langsung. Selama gerhana berlangsung, bagian Bulan yang berada dalam bayangan Bumi kemungkinan akan tampak berwarna kemerahan atau jingga. Perubahan warna ini disebabkan oleh cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi dan dibelokkan menuju permukaan Bulan, sebuah fenomena yang juga menyebabkan Bulan tampak merah saat gerhana Bulan total atau yang dikenal sebagai Blood Moon.
Meskipun waktu gerhana berlangsung sama bagi semua pengamat di belahan Bumi yang malam, waktu lokal pengamatan akan bervariasi tergantung lokasi. Di wilayah Pantai Barat Amerika Serikat, seperti California, puncak gerhana akan terjadi sesaat setelah tengah malam pada 27-28 Agustus. Sementara itu, pengamat di Inggris akan menyaksikan fase maksimum sesaat sebelum Matahari terbit pada 28 Agustus, dengan Bulan berada rendah di cakrawala barat daya.
Berbeda dengan gerhana Matahari, pengamatan gerhana Bulan tidak memerlukan alat pelindung mata khusus. Masyarakat dapat menyaksikannya secara langsung tanpa risiko kerusakan mata akibat paparan cahaya Matahari. Namun, penggunaan binokular atau teleskop dapat memberikan pandangan yang lebih detail mengenai pergerakan bayangan Bumi di permukaan Bulan.