bytedaily
Minggu, 23 Agustus 2026 - 02:13 WIB

Google dan UC San Diego Manfaatkan 2.000 Ponsel Pixel Bekas untuk Pusat Data Cloud Ramah Lingkungan

Redaksi 11 Juli 2026 17 views
Google dan UC San Diego Manfaatkan 2.000 Ponsel Pixel Bekas untuk Pusat Data Cloud Ramah Lingkungan
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Google bekerja sama dengan University of California San Diego (UC San Diego) tengah menguji coba pembangunan pusat data menggunakan 2.000 unit ponsel Google Pixel bekas. Inisiatif ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kedua bagi perangkat ponsel lama agar dapat berfungsi sebagai sistem komputasi awan (cloud) yang lebih ramah lingkungan.

Para peneliti dari UC San Diego dan Google berpendapat bahwa ponsel bekas tersebut masih memiliki potensi daya pemrosesan yang dapat dimanfaatkan sebagai komputer mini. Konsep yang diusung adalah 'komputasi klaster ponsel', di mana motherboard dari ponsel yang tidak terpakai lagi diolah kembali menjadi bagian dari sistem komputasi rendah karbon, sebagai alternatif dari pembuangan sebagai limbah elektronik.

Proyek yang dijadwalkan meluncur pada musim gugur tahun ini, diperkirakan antara September hingga November, menargetkan penyediaan layanan komputasi awan berbiaya rendah bagi kalangan mahasiswa dan peneliti. Selain itu, inisiatif ini juga berupaya mengurangi ketergantungan pada produksi perangkat keras server baru.

Proses 'komputasi klaster ponsel' diawali dengan membongkar ponsel pintar bekas hingga hanya menyisakan motherboard. Komponen lain seperti layar, baterai, kamera, dan bodi ponsel dilepas karena dianggap tidak efisien atau berpotensi menimbulkan risiko keamanan, seperti pada baterai.

Selanjutnya, sistem operasi Linux ditanamkan pada motherboard tersebut. Meskipun Android berjalan di atas Linux, sistem operasi tersebut dirancang untuk aplikasi seluler, sementara pusat data memerlukan sistem yang lebih fleksibel untuk menangani beban kerja cloud. Motherboard ponsel ini kemudian dikelompokkan dalam beberapa klaster, yang secara kolektif berfungsi layaknya deretan server mini.

Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI) meningkatkan kebutuhan daya komputasi, yang berdampak pada permintaan chip, pasokan listrik, dan sistem pendingin untuk pusat data. Proyek yang didukung Google ini menawarkan perspektif baru dengan memanfaatkan kembali perangkat keras yang sudah ada, di tengah fakta bahwa miliaran ponsel di dunia berhenti digunakan setiap tahunnya.

Fokus utama proyek ini adalah menekan 'karbon tertanam', yaitu emisi yang dihasilkan dari proses penambangan bahan baku, manufaktur, hingga pengiriman perangkat sebelum pertama kali digunakan. Dengan menggunakan motherboard ponsel bekas, proyek ini diklaim mampu mengurangi dampak lingkungan yang timbul dari produksi perangkat keras baru.

Proses ini melibatkan pembongkaran yang presisi, pengembangan perangkat lunak baru, serta metode pengelolaan banyak motherboard secara bersamaan. Google menjelaskan bahwa proyek ini memanfaatkan aplikasi berbasis kontainer yang dikelola oleh Kubernetes untuk mengoordinasikan tugas di berbagai perangkat. Motherboard diatur dalam klaster mandiri yang terdiri dari 25 hingga 50 papan, di mana setiap papan berfungsi sebagai mesin Linux kecil yang mampu menangani tugas komputasi cloud konvensional.

Penting untuk dicatat bahwa satu motherboard ponsel tidak setara dengan satu server standar, yang umumnya memiliki jumlah inti prosesor lebih banyak, memori lebih besar, dan ketahanan tingkat industri. Meskipun demikian, papan ponsel memiliki sumber daya yang terbatas namun memadai untuk berbagai beban komputasi.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.