bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Google memutuskan untuk menarik kembali fitur pembuatan gambar Nano Banana 2 dari platform Google Earth. Keputusan ini diambil menyusul maraknya pengguna yang memanfaatkan fitur tersebut untuk menyebarkan gambar-gambar yang menyesatkan.
Menurut pengumuman Google melalui akun X, perusahaan mendapati adanya tangkapan layar dari gambar yang dihasilkan oleh fitur tersebut yang terindikasi melanggar kebijakan. Meskipun Google menegaskan bahwa gambar-gambar buatan AI tersebut tidak tampil di tampilan utama Google Earth dan telah dilengkapi dengan tanda air digital SynthID, tangkapan layar antarmuka Google Earth dinilai masih berpotensi disalahgunakan untuk menyebarkan informasi palsu.
Google mengakui bahwa platformnya dipercaya sebagai sumber gambaran dunia yang dapat diandalkan. Meskipun fitur Nano Banana 2 sebelumnya telah dimanfaatkan oleh para profesional geospasial untuk berbagai keperluan positif, perusahaan menemukan adanya gambar hasil generatif yang dibagikan dan diduga melanggar kebijakan. Oleh karena itu, Google menarik fitur ini sambil berupaya menerapkan sistem pengamanan yang lebih kuat.
Kekhawatiran mengenai potensi penyalahgunaan fitur ini juga diungkapkan oleh para ahli. Direktur Eksekutif Humanitarian Research Lab di Yale School of Public Health, Nathaniel Raymond, memperingatkan bahwa fitur tersebut dapat meningkatkan risiko pemalsuan citra satelit. Ia menyebutkan bahwa lembaganya kerap menghadapi upaya disinformasi terkait citra udara dan informasi sumber terbuka, dan Nano Banana berpotensi membuka peluang pemalsuan data satelit yang dapat merugikan kelompok rentan.
Pendiri dan CEO TerraWatch Space, Aravind Ravichandran, turut menyampaikan kekhawatiran serupa. Ia menyoroti bahwa Google Earth merupakan salah satu peta dasar yang paling banyak digunakan dan dipercaya oleh berbagai kalangan, termasuk jurnalis dan penyelidik. Fitur Nano Banana memungkinkan pembuatan tangkapan layar dengan informasi palsu, seperti gambaran kerumunan di perbatasan, tank di perkotaan, atau terminal minyak yang terbakar.
Henk Van Ess dari Digital Digging juga mendemonstrasikan kemampuan fitur tersebut dengan membuat skenario palsu, termasuk penambahan pengungsi di dekat perbatasan Meksiko, penempatan pembangkit listrik tenaga nuklir di Iran, dan gambaran kecelakaan fatal di jalanan Amsterdam, semuanya ditempatkan di atas citra satelit asli Google. Menanggapi hal ini, Google menyatakan keseriusannya dalam menangani persoalan misinformasi.
Fitur Nano Banana 2 sendiri dirilis pada Kamis (30/7) dan memungkinkan pengguna untuk memunculkan kembali bangunan bersejarah atau menampilkan infografis di atas tampilan citra satelit, foto udara, dan gambar tiga dimensi yang tersedia di Google Earth. Pengguna dapat membuat visual dengan memperbesar tampilan ke lokasi tertentu, memilih menu 'Create image', lalu mengetikkan deskripsi gambar yang diinginkan.