bytedaily
Senin, 06 Juli 2026 - 15:00 WIB

Harga Kopi Rp 90.000 Cerminan Gejolak Ekonomi Global, dari Inflasi Komoditas hingga Perubahan Iklim

Redaksi 29 Mei 2026 16 views
Harga Kopi Rp 90.000 Cerminan Gejolak Ekonomi Global, dari Inflasi Komoditas hingga Perubahan Iklim
Ilustrasi visual (Sumber: bbc.com)

bytedaily - Dilansir dari bbc.com, harga kopi yang mencapai lebih dari Rp 90.000 di Inggris menjadi cerminan kompleksitas ekonomi global. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan kenaikan harga komoditas, tetapi juga dampak perubahan iklim, ketidakstabilan perdagangan, hingga perubahan selera konsumen.

Di Kew Bridge, London Barat, antrean terlihat di kedai kopi "Dear Coco" yang menyajikan kopi berkualitas tinggi dari biji arabika. Harga yang ditawarkan, seperti £4.50 untuk es latte, £4.10 untuk latte ukuran 10 ons, dan £3.90 untuk flat white ukuran 6 ons, menunjukkan tren kenaikan harga kopi yang meluas di Inggris. Bahkan, kedai kopi yang tidak menggunakan biji berkualitas terbaik pun kini seringkali menjual kopi di atas £4, dengan kopi ukuran besar di pusat kota London yang menggunakan susu nabati bisa mencapai £5 atau sekitar Rp 90.000.

Kondisi ini juga dirasakan di Amerika Serikat. CEO Starbucks, Brian Niccol, sempat menuai kritik karena menyebut pengalaman minum kopi seharga $9 atau sekitar £6.68 sebagai "pengalaman premium yang sangat terjangkau".

Anthony Duckworth, seorang penjual kopi di kedai tersebut, mengakui kesulitan dalam menjaga harga flat white di bawah £4. "Setiap bagian dari rantai pasok telah menjadi lebih mahal," ujarnya. Ia menambahkan bahwa ambang batas psikologis harga £4 sangat penting bagi konsumen.

Lebih dari sekadar minuman ritual pagi, kopi kini menjadi indikator ekonomi global. Kenaikan harga kopi menyoroti inflasi komoditas, kekacauan perdagangan, ketegangan geopolitik, perubahan iklim, hingga pergeseran selera generasi Z. Selain itu, kopi juga mencerminkan pertumbuhan kelas menengah di Tiongkok dan dampak jangka panjang dari Perang Vietnam.

Perjalanan kopi modern dimulai di Turin, Italia, pada tahun 1895, ketika mesin kopi bertenaga uap dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan para pelancong. Minuman yang awalnya mewah ini kemudian menjadi konsumsi massal.

Giuseppe Lavazza, keturunan pendiri merek kopi Lavazza, menekankan pentingnya adaptasi perusahaan untuk bertahan. Perusahaannya kini mengembangkan inovasi seperti biskuit kopi "tabli" untuk pasar kopi rumahan tanpa menggunakan pod logam yang dinilai kurang ramah lingkungan.

Industri kopi menghadapi tantangan serius dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada dua jenis biji kopi utama dunia. Biji arabika, yang dikenal dengan rasa manis dan aromanya, ditanam di dataran tinggi Brazil, Ethiopia, dan Kenya melalui proses pemetikan tangan yang cermat. Sementara itu, biji robusta, yang kaya kafein, dipanen secara massal menggunakan mesin, dengan Vietnam menjadi pemain utama dalam pasar ini sejak pasca-perang tahun 1970-an.

Dua tahun lalu, kombinasi peristiwa iklim mendorong harga kedua jenis biji kopi ini ke level tertinggi dalam beberapa dekade. Pada awal 2024, Vietnam mengalami kekeringan terburuk dalam beberapa dekade, diikuti oleh topan saat panen akhir tahun lalu yang memengaruhi produksi. Di Brazil, petani masih berjuang memulihkan diri dari embun beku parah pada tahun 2021 yang merusak tanaman arabika.


Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi bbc.com.