bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, harga minyak dunia melonjak mencapai US$91 per barel pada perdagangan Selasa (18/8). Kenaikan ini dipicu oleh memudarnya harapan kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang menimbulkan kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan energi di tengah konflik yang masih berlanjut di Timur Tengah.
Menurut data yang dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent tercatat naik 27 sen atau 0,3 persen menjadi US$91,14 per barel. Level ini merupakan yang tertinggi sejak 30 Juli. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS mengalami penguatan 42 sen menjadi US$85,04 per barel, setelah sebelumnya sempat menguat lebih dari 1 persen hingga menyentuh US$85,37 per barel, level tertingginya sejak 31 Juli.
Peningkatan harga minyak ini terjadi seiring dengan semakin jauhinya prospek tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Iran mengindikasikan akan mengambil sikap militer yang lebih ofensif setelah negosiasi untuk mengakhiri perang secara permanen dengan AS mengalami kebuntuan. Seorang pejabat senior Iran menyatakan bahwa Teheran akan beralih ke posisi yang sepenuhnya ofensif karena perundingan dengan AS tidak menunjukkan kemajuan. Pernyataan ini muncul setelah Washington menegaskan tidak akan memperpanjang kesepakatan gencatan senjata sementara.
Perkembangan ini juga menyebabkan terhentinya kemajuan menuju pembicaraan damai dan pembukaan kembali lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz. Analis Pasar Utama KCM, Tim Waterer, menyatakan bahwa ketidakstabilan hubungan AS-Iran menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak pada awal pekan. Ia menambahkan bahwa kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz masih belum terlihat, dan jumlah pelayaran masih sangat terbatas.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global. Berdasarkan data pelacakan kapal Kpler, hanya lima kapal komoditas yang melintasi selat tersebut pada Sabtu setelah serangkaian serangan terhadap kapal tanker, dan tidak ada kapal yang tercatat melintas pada Minggu. Angka ini jauh menurun dibandingkan 31 kapal pada akhir pekan sebelumnya.
Risiko pasokan juga meningkat setelah kelompok Houthi Yaman mengklaim telah menyerang sebuah kapal militer Arab Saudi dan empat kapal pengawal di Laut Merah menggunakan rudal. Waterer menyoroti bahwa risiko gangguan di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb menjadi perhatian utama pasar minyak saat ini, karena keduanya merupakan pusat dari narasi risiko pasokan.
Di sisi lain, Iran masih bernegosiasi dengan Oman terkait pengelolaan lalu lintas di Selat Hormuz dan menyatakan pembicaraan tersebut hampir mencapai kesepakatan. Namun, Presiden AS Donald Trump merespons proses negosiasi tersebut dengan ancaman akan menyerang Oman. Meskipun prospek perdamaian memburuk, masih ada sedikit harapan diplomasi, dengan laporan media menyebut Trump telah membuka komunikasi melalui jalur belakang dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Pasar juga menantikan data persediaan minyak mentah AS. Jajak pendapat awal Reuters pada Senin memperkirakan stok minyak mentah dan produk olahan AS kemungkinan akan turun pada pekan lalu.