bytedaily
Kamis, 21 Mei 2026 - 09:23 WIB

Harga Minyak Melonjak ke 100 Dolar AS di Tengah Ketegangan Selat Hormuz, Upaya Diplomasi Internasional Digaungkan

Redaksi 18 Maret 2026 11 views
Harga Minyak Melonjak ke 100 Dolar AS di Tengah Ketegangan Selat Hormuz, Upaya Diplomasi Internasional Digaungkan
Ilustrasi: Harga Minyak Melonjak ke 100 Dolar AS di Tengah Ketegangan Selat Hormuz, Upaya Diplomasi Internasional Digaungkan

bytedaily - Harga minyak mentah Brent, acuan internasional, kembali menembus level 100 dolar AS, yakni mencapai 105,70 dolar AS per barel pada Senin (16/3/2026). Kenaikan ini tercatat lebih dari 40 persen sejak serangan Israel di Selat Hormuz dimulai pada 28 Februari. Iran, melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, secara tegas menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab atas ketegangan di jalur pelayaran strategis tersebut.

Araghchi menyampaikan pandangannya kepada Sekjen PBB Antonio Guterres, mendesak komunitas internasional untuk mengutuk tindakan AS dan Israel serta menuntut diakhirinya agresi militer mereka terhadap Iran. Pernyataan ini muncul di tengah laporan bahwa beberapa negara tengah bernegosiasi dengan Iran untuk menjamin jalur laut yang aman, pascapernyataan awal dari pejabat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang mengklaim Selat Hormuz 'tertutup' bagi negara musuh.

Meskipun Araghchi menegaskan bahwa Selat Hormuz 'terbuka, tetapi tertutup bagi musuh-musuh kita', Menteri Perminyakan Irak, Hayan Abdul-Ghani, mengonfirmasi bahwa Irak telah mencapai kesepakatan dengan Iran mengenai transit kapal tanker minyaknya. Di sisi lain, upaya AS untuk membentuk koalisi angkatan laut guna 'mengamankan' jalur tersebut belum mendapat dukungan signifikan. Presiden Prancis Emmanuel Macron secara eksplisit menyatakan Paris tidak akan berpartisipasi dalam operasi militer pembukaan blokade, namun siap terlibat dalam sistem pengawalan pasca-konflik jika Iran turut serta. Uni Eropa, melalui kepala kebijakan luar negerinya Kaja Kallas, dilaporkan sedang mengupayakan solusi diplomatik untuk menjamin kelancaran transit dan meredam dampak kenaikan harga energi terhadap pasar global.