bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) meminta Kementerian Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi membenahi strategi hilirisasi. Langkah ini dinilai perlu agar investasi menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.
Direktur INDEF Green Transition Initiative Imaduddin Abdullah menilai kementerian koordinator baru berpeluang memperkuat kerja sama lintas kementerian. Menurutnya, keberhasilan hilirisasi bergantung pada keselarasan kebijakan mengenai perizinan investasi, pasokan bahan baku, pembangunan pabrik, ketersediaan energi, dan akses pasar.
Imaduddin menyebut tantangan pengembangan industri mineral kritis mencakup persoalan perizinan, kebutuhan infrastruktur energi, serta risiko pasokan bahan baku. Koordinasi diperlukan agar pembangunan fasilitas pengolahan sesuai dengan kesiapan rantai pasok.
Di sejumlah tahap pengolahan, kapasitas produksi juga dinilai berlebih. Ketidakseimbangan kapasitas, pasokan bahan baku, dan kebutuhan pasar dapat menghambat pemanfaatan investasi. Kesiapan teknologi dan tenaga kerja turut menjadi tantangan dalam meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
INDEF mendorong kementerian tersebut mengawal keputusan lintas kementerian dengan memperhitungkan kesiapan seluruh rantai hilirisasi, dari hulu hingga hilir. Prospek permintaan produk bernilai tambah juga perlu diperhatikan agar kapasitas industri sesuai kebutuhan pasar.
Selain hilirisasi, kementerian baru diharapkan mempercepat transisi energi untuk mendukung kebutuhan industri. Salah satu program yang disebut perlu mendapat perhatian adalah pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp).