bytedaily
Senin, 19 Oktober 2026 - 22:30 WIB

Indonesia Ajukan Dana Bencana Global Melalui Skema Investasi Gabungan

Redaksi 04 September 2026 3 views
Indonesia Ajukan Dana Bencana Global Melalui Skema Investasi Gabungan
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPLDH) tengah menjajaki potensi pendanaan kebencanaan global melalui program The Fund for responding to Loss and Damage (FRLD) yang berada di bawah pengelolaan Bank Dunia. Direktur Utama BPLDH, Joko Tri Haryanto, menyatakan bahwa pihaknya telah mengajukan dua proposal untuk mengakses dana tersebut. Proposal pertama difokuskan pada penanganan bencana di wilayah daratan, sementara proposal kedua untuk bencana di wilayah pesisir. Kedua proposal ini memiliki pendekatan yang berbeda, satu berfokus pada pemulihan pascabencana dan yang lainnya pada mitigasi risiko sebelum bencana terjadi.

Menurut Joko, strategi pengajuan dua proposal ini diambil karena mekanisme FRLD masih dalam tahap pengembangan dan belum sepenuhnya jelas mengenai batasan pendanaannya antara sebelum atau sesudah bencana. Selain itu, BPLDH berencana menawarkan skema pendanaan inovatif berupa 'blended finance', yaitu menggabungkan dana dari FRLD dengan dana internal Indonesia. Dengan skema ini, Indonesia tidak hanya meminta bantuan, tetapi juga berkontribusi modal dari dalam negeri untuk memperbesar jumlah pembiayaan penanggulangan bencana.

Salah satu sumber dana internal yang dapat dimanfaatkan adalah dana abadi kebencanaan yang dikelola BPLDH. Joko menjelaskan bahwa skema 'blended finance' ini menjadi pembeda Indonesia dengan negara lain, di mana negara lain mungkin hanya meminta, sementara Indonesia menawarkan investasi gabungan. Dana abadi ini tidak dapat digunakan secara langsung, melainkan hasil investasinya yang dimanfaatkan untuk membiayai kebutuhan, termasuk perlindungan aset pemerintah melalui asuransi.

Hasil pengelolaan dana abadi kebencanaan ini telah digunakan untuk mengasuransikan sejumlah aset dan fasilitas pemerintah, seperti Istana Presiden, premi asuransi untuk Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), hingga sekolah di bawah Kementerian Agama. Joko mencontohkan, saat bencana melanda Sumatra dan merusak banyak bangunan sekolah, BPLDH telah menerima pembayaran klaim asuransi karena premi telah dibayarkan sebelumnya. Keuntungan investasi dari dana abadi ini juga tetap dihasilkan ketika bencana tidak terjadi, yang kemudian dapat menambah dana abadi tersebut, memastikan dana tersebut terus berkembang untuk menghadapi risiko bencana di masa depan.

Joko menekankan bahwa Indonesia tidak hanya meminta, tetapi juga mengajak kontribusi. Mengingat kondisi geopolitik global yang tidak stabil, ia berpendapat bahwa pergeseran dari pendanaan hibah (grant) ke investasi mutlak diperlukan.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.