bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPLDH) tengah menjajaki potensi pendanaan kebencanaan internasional melalui program The Fund for Responding to Loss and Damage (FRLD) yang dikelola oleh Bank Dunia. Direktur Utama BPLDH, Joko Tri Haryanto, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengajukan dua proposal untuk mengakses dana tersebut. Proposal pertama difokuskan pada penanganan bencana di wilayah daratan, sementara proposal kedua untuk bencana di wilayah pesisir. Kedua proposal tersebut memiliki pendekatan yang berbeda, satu berfokus pada pemulihan pasca-bencana, dan yang lainnya pada mitigasi risiko sebelum bencana terjadi.
Menurut Joko, strategi pengajuan dua proposal ini diambil karena mekanisme FRLD masih dalam tahap pengembangan dan belum sepenuhnya jelas mengenai batasan pendanaannya antara sebelum atau sesudah bencana. Selain itu, BPLDH juga berencana menawarkan skema pendanaan inovatif berupa *blended finance*, yang menggabungkan dana dari FRLD dengan dana domestik yang dimiliki Indonesia. Pendekatan ini memungkinkan Indonesia tidak hanya meminta bantuan, tetapi juga berkontribusi modal dari dalam negeri untuk memperbesar jumlah pembiayaan penanggulangan bencana.
Salah satu sumber dana domestik yang dapat dimanfaatkan adalah dana abadi kebencanaan yang dikelola BPLDH. Joko menyatakan bahwa skema *blended finance* ini menjadi pembeda Indonesia dibandingkan negara lain yang mungkin hanya mengajukan permintaan dana. Melalui dana abadi ini, Indonesia dapat menawarkan investasi gabungan. Dana abadi tersebut tidak digunakan secara langsung, melainkan hasil investasinya yang dimanfaatkan untuk membiayai berbagai kebutuhan, termasuk perlindungan aset pemerintah melalui asuransi.
Saat ini, hasil pengelolaan dana abadi kebencanaan telah digunakan untuk mengasuransikan sejumlah aset dan fasilitas pemerintah, seperti Istana Presiden, premi asuransi untuk Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), hingga sekolah di bawah Kementerian Agama. Joko mencontohkan, ketika bencana melanda Sumatra dan merusak banyak bangunan sekolah, klaim asuransi telah dibayarkan karena premi telah dibeli sebelumnya. Di sisi lain, ketika bencana tidak terjadi, dana yang dikelola tetap menghasilkan keuntungan investasi yang dapat menambah dana abadi, memastikan keberlanjutan pendanaan untuk menghadapi risiko bencana di masa depan.
Joko menekankan bahwa Indonesia tidak hanya meminta, tetapi juga mengajak kontribusi. Dalam kondisi geopolitik yang tidak stabil, penting untuk beralih dari ketergantungan pada hibah semata menuju investasi yang lebih berkelanjutan.