bytedaily
Senin, 19 Oktober 2026 - 22:29 WIB

Indonesia Ajukan Proposal Dana Bencana Global dengan Pendekatan Investasi

Redaksi 04 September 2026 5 views
Indonesia Ajukan Proposal Dana Bencana Global dengan Pendekatan Investasi
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPLDH) tengah berupaya mengakses pendanaan kebencanaan global melalui program The Fund for Responding to Loss and Damage (FRLD) yang dikelola oleh Bank Dunia. Direktur Utama BPLDH, Joko Tri Haryanto, menyatakan bahwa BPLDH yang berada di bawah Kementerian Keuangan telah mengajukan dua proposal untuk memanfaatkan dana tersebut. Satu proposal difokuskan pada penanganan bencana daratan, sementara proposal kedua ditujukan untuk bencana wilayah pesisir.

Pendekatan yang diambil dalam kedua proposal ini berbeda, di mana satu proposal menekankan pada pemulihan pascabencana, dan yang lainnya pada upaya mitigasi risiko sebelum bencana terjadi. Joko menjelaskan bahwa perbedaan pendekatan ini diambil mengingat mekanisme FRLD yang masih dalam tahap pengembangan dan belum sepenuhnya jelas batasan antara pendanaan penanganan sebelum dan sesudah bencana.

Lebih lanjut, BPLDH juga menjajaki peluang untuk menawarkan skema pendanaan inovatif berupa *blended finance*. Skema ini menggabungkan dana dari FRLD dengan dana yang telah dimiliki oleh Indonesia, termasuk dana abadi kebencanaan yang dikelola BPLDH. Dengan pendekatan *blended finance*, Indonesia tidak hanya meminta bantuan, tetapi juga berkontribusi dengan modal dana dalam negeri untuk memperbesar kapasitas pembiayaan penanganan bencana. Joko menekankan bahwa skema ini menjadi pembeda Indonesia dari negara lain yang mungkin hanya mengajukan permohonan dana.

Dana abadi kebencanaan yang dikelola BPLDH tidak dapat digunakan secara langsung, melainkan hasil investasinya yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk perlindungan aset pemerintah melalui asuransi. Saat ini, hasil pengelolaan dana tersebut telah digunakan untuk mengasuransikan aset negara seperti Istana Presiden, premi asuransi untuk sejumlah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), hingga sekolah di bawah Kementerian Agama. Joko mencontohkan manfaatnya saat bencana melanda bangunan sekolah di Sumatra, di mana pembayaran klaim asuransi telah diterima berkat premi yang sudah dibayarkan.

Skema ini juga memastikan bahwa dana yang dikelola tetap menghasilkan keuntungan investasi ketika bencana tidak terjadi, yang kemudian dapat menambah dana abadi. Hal ini memungkinkan dana tersebut terus berkembang dan siap digunakan untuk menghadapi risiko bencana di masa mendatang. Joko menegaskan bahwa di tengah kondisi geopolitik yang tidak stabil, penting untuk beralih dari ketergantungan pada hibah semata menuju skema investasi yang lebih berkelanjutan.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.