bytedaily - Pemerintah Indonesia dipastikan akan menghentikan seluruh impor solar pada 1 Juli 2026, seiring dengan implementasi mandatori penggunaan biodiesel 50 persen (B50) yang berasal dari minyak sawit. Keputusan strategis ini diungkapkan oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, yang menekankan langkah ini sebagai penguatan kemandirian energi nasional.
Menurut Amran, pemanfaatan komoditas sawit yang melimpah akan menjadi tulang punggung transisi energi di sektor bahan bakar transportasi. Sawit tidak hanya akan diolah menjadi biodiesel, tetapi pemerintah juga tengah mempercepat pengembangan potensi pengolahannya menjadi bensin dan etanol. "Ini energi masa depan Indonesia. Karena sumbernya dari sawit. Sawit jadi solar, sawit juga jadi bensin," ujar Amran saat memberikan pidato kunci di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Minggu (13/4/2026).
Lebih lanjut, pemerintah berencana menjajaki kerja sama dengan PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) untuk pengembangan bensin berbasis sawit dalam skala awal sebelum ditingkatkan menjadi industri besar. Langkah ini diharapkan dapat membuka prospek cerah bagi masa depan energi nasional. Dalam kesempatan yang sama, Amran juga meninjau inovasi teknologi ITS, termasuk traktor listrik yang menawarkan efisiensi dan penghematan signifikan karena tidak menggunakan solar.