bytedaily - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menargetkan nilai tambah ekonomi dari program hilirisasi komoditas perkebunan, termasuk kelapa dan gambir, dapat mencapai Rp5.000 triliun bagi perekonomian nasional. Fokus utama adalah mengolah bahan baku menjadi produk bernilai tinggi sebelum diekspor, agar keuntungan ekonomi tidak hanya berhenti pada tahap mentah.
Amran menjelaskan, komoditas seperti kelapa, jika diolah lebih lanjut hingga produk turunannya, berpotensi menghasilkan nilai ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan hanya menjual dalam bentuk bahan baku. Hal serupa berlaku untuk komoditas gambir, di mana Indonesia mendominasi 80 persen pasar dunia namun mayoritas masih diekspor sebagai bahan mentah. Program hilirisasi ini sejalan dengan arahan Presiden untuk meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri.
Lebih lanjut, hilirisasi komoditas seperti kelapa, gambir, dan minyak sawit mentah (CPO) diharapkan tidak hanya mendongkrak nilai ekspor, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru di Indonesia. Untuk mendukung upaya ini, Kementerian Pertanian menjalin kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi guna mengembangkan teknologi pertanian yang inovatif. Pihak kementerian juga sedang menguji coba beberapa teknologi, seperti alat panjat kelapa dari ITS dan mesin pengering jagung portabel dari ITB, yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas petani dan meminimalkan risiko pekerjaan.