bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) mengamati bahwa sektor teknologi finansial (fintech) di Indonesia telah memasuki tahap pendewasaan setelah mengalami pertumbuhan pesat selama lebih dari satu dekade. Perhatian utama para pelaku industri kini beralih dari sekadar mengejar pertumbuhan menjadi penguatan fondasi bisnis, peningkatan kepercayaan digital, serta kontribusi yang lebih signifikan terhadap perekonomian nasional.
Pergeseran ini terungkap dari survei tahunan bertajuk Annual Members Survey (AMS) 2025–2026 yang melibatkan 141 perusahaan anggota AFTECH dari berbagai segmen seperti sistem pembayaran, pembiayaan digital, aset digital, layanan teknologi keuangan, dan platform pendukung ekosistem.
Ketua Umum AFTECH, Pandu Sjahrir, menjelaskan bahwa ukuran daya saing industri fintech di masa depan tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis semata. Faktor-faktor seperti kekuatan model bisnis, konsistensi implementasi regulasi, tingkat kepercayaan digital yang terbangun, serta dampak nyata bagi masyarakat dan perekonomian menjadi indikator penting.
Berdasarkan survei tersebut, AFTECH mengidentifikasi lima transisi utama yang akan membentuk arah perkembangan industri fintech Indonesia. Pertama, terjadi pergeseran fokus dari orientasi pertumbuhan menjadi penguatan fundamental bisnis, di mana 77 persen responden menjadikan kemitraan strategis sebagai strategi utama, dan 97 persen tidak mengubah model bisnis mereka dalam setahun terakhir. Kedua, kebutuhan bergeser dari pembentukan regulasi menjadi kepastian implementasi, dengan 84 persen responden menekankan pentingnya kepastian dan stabilitas regulasi sebagai dukungan pemerintah yang paling dibutuhkan. Ketiga, fokus industri bergeser dari pembangunan infrastruktur digital ke penguatan kepercayaan digital, di mana 53 persen responden memprioritaskan pengembangan identitas digital untuk meningkatkan keamanan dan kepercayaan pengguna. Keempat, adopsi teknologi kini diikuti oleh peningkatan kualitas sumber daya manusia, dengan 48 persen responden menyebut talenta di bidang data, kecerdasan buatan (AI), dan analitik sebagai yang paling sulit dicari. Kelima, industri mulai mengedepankan dampak yang lebih berkelanjutan, di mana 71 persen responden menganggap rendahnya literasi keuangan masyarakat sebagai hambatan utama dalam memperluas inklusi keuangan, meskipun akses layanan keuangan sudah semakin luas.