bytedaily - Meskipun Amerika Serikat menjanjikan pengawalan militer, perusahaan pelayaran tetap menunjukkan keengganan untuk melintasi Selat Hormuz. Ancaman dari Iran terhadap kapal-kapal yang melewati jalur strategis ini telah menimbulkan kekhawatiran serius terkait keselamatan awak kapal dan nilai aset bernilai ratusan juta dolar yang diangkut. Kebijakan asuransi yang didukung pemerintah AS belum cukup untuk meyakinkan operator logistik global seperti Flexport, yang prioritas utamanya adalah mitigasi risiko.
Keraguan semakin diperparah oleh pertanyaan mengenai kapabilitas Angkatan Laut AS untuk memberikan pengawalan yang memadai bagi puluhan kapal tanker yang biasanya melintasi selat tersebut setiap hari. Para ahli industri maritim menilai pengawalan untuk seluruh armada tidak realistis, sehingga potensi kekacauan dalam rantai pasok global semakin nyata. Situasi ini telah menyebabkan penghentian penerimaan kargo ke negara-negara Teluk Persia oleh perusahaan pelayaran besar dan pencabutan perlindungan asuransi perang, yang berpotensi meningkatkan biaya bagi bisnis dan konsumen di seluruh dunia.