bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, riset Kaspersky menemukan beragam ancaman siber yang berpotensi berdampak pada wisatawan di Jepang, termasuk pengunjung dari Indonesia.
Dalam riset tersebut, Kaspersky mencatat 32.851.462 deteksi ancaman web umum yang mencakup situs berbahaya dan risiko daring lainnya. Ancaman semacam ini bisa ditemui saat wisatawan mencari informasi perjalanan, memesan layanan, atau memakai jaringan publik.
Riset itu juga mendeteksi 201.517 pencuri kata sandi yang dirancang untuk mengambil kredensial dari peramban, aplikasi, dan akun. Selain itu, terdapat 209.226 deteksi spyware yang dapat memantau aktivitas serta mengakses informasi sensitif, dan 294.394 deteksi backdoor yang memungkinkan akses tanpa izin ke perangkat terinfeksi.
Para ahli Kaspersky menilai wisatawan rentan karena kerap memakai layanan digital yang belum dikenal, terhubung dari lokasi baru, dan harus mengambil keputusan dengan cepat. Peneliti keamanan utama di Global Research and Analysis Team (GReAT) Kaspersky mengatakan pelaku kejahatan siber memanfaatkan situasi tersebut, sementara wisatawan biasanya lebih berfokus menjelajahi tempat baru.
Kaspersky mengingatkan wisatawan agar berhati-hati menggunakan Wi-Fi publik, yang tersedia di antaranya di bandara, hotel, kafe, dan pusat perbelanjaan. Jaringan tersebut dapat dimanfaatkan untuk membuat hotspot palsu guna mencuri informasi masuk atau data keuangan. Risiko dapat muncul saat jaringan digunakan untuk mengakses layanan perjalanan, surel, akun daring, maupun pembayaran.
Wisatawan juga diminta mewaspadai penipuan pembayaran menggunakan kode QR. Pelaku bisa menutupi kode yang sah dengan kode palsu atau mengarahkan pembayaran ke rekening penipu. Sebelum bertransaksi, wisatawan disarankan memeriksa nama pedagang dan rincian pembayaran, menghindari kode QR yang rusak atau tampak telah diubah, bertanya kepada staf jika ragu, serta mengaktifkan notifikasi pembayaran.