bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) mendorong pembangunan pusat data di berbagai negara. Di sisi lain, operasional fasilitas tersebut membutuhkan air dan listrik dalam jumlah besar, terutama jika menggunakan sistem pendingin evaporatif.
Kebutuhan sumber daya itu dapat menambah tekanan terhadap pasokan air yang juga dimanfaatkan masyarakat apabila tidak dikelola dengan baik. Salah satu proyek yang mendapat sorotan adalah pusat data berbasis AI milik BDx Data Centers senilai Rp3,5 triliun di kawasan Jati Luhut, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Proyek tersebut dihentikan sementara di tengah persoalan perizinan dan perhatian terhadap potensi dampak lingkungannya.
Ahli teknologi pengelolaan lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung, Mariana Marselina, mengatakan pembangunan pusat data perlu disertai kajian dampak lingkungan. Hal yang perlu diperhitungkan meliputi penggunaan air untuk pendinginan, kebutuhan energi, karakteristik air limbah, perubahan tata guna lahan dan limpasan permukaan, kebisingan, panas buangan, serta dampak terhadap masyarakat yang bergantung pada sumber air yang sama.
Marselina menilai kebutuhan air perlu dikaji secara khusus karena Waduk Jatiluhur memiliki beragam fungsi, termasuk memasok air baku dan irigasi. Kajian diperlukan untuk memastikan kebutuhan pusat data tidak mengurangi jatah air bagi masyarakat maupun sektor lain, termasuk saat musim kemarau. Ia mengatakan kekhawatiran masyarakat perlu dijawab dengan data, bukan sekadar pernyataan bahwa pasokan air mencukupi.
Perhatian terhadap konsumsi air pusat data juga muncul di tingkat global. Studi Environmental and Energy Study Institute yang terbit pada 2025 menyebut satu pusat data dapat menggunakan hingga 5 juta galon air per hari, setara sekitar 18,9 juta liter. Peneliti Miguel Yanez-Barnuevo menyatakan jumlah tersebut sebanding dengan kebutuhan air sekitar 10 ribu hingga 50 ribu orang.
Studi itu juga mengutip laporan yang memperkirakan pusat data di Amerika Serikat menggunakan 449 juta galon air per hari, atau 163,7 miliar galon sepanjang 2021. Konsumsi tiap fasilitas berbeda, bergantung pada ukuran, lokasi, iklim, suhu ruangan, kepadatan chip, dan teknologi pendingin.
Air untuk operasional pusat data dapat bersumber dari air permukaan, air tanah, jaringan perpipaan kota, atau air daur ulang. Pada sistem pendingin evaporatif, sebagian air menguap untuk membuang panas dari perangkat. Yanez-Barnuevo menyebut sekitar 80 persen air yang diambil pusat data umumnya menguap, sedangkan sisanya dialirkan ke fasilitas pengolahan air limbah kota.
Peningkatan penggunaan AI turut menjadi perhatian karena komputasi yang lebih intensif dapat meningkatkan kepadatan chip dan panas yang dihasilkan server.