bytedaily
Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:47 WIB

Mendag Optimistis Harga Pangan Terkendali hingga Akhir 2026

Redaksi 15 Oktober 2026 3 views
Mendag Optimistis Harga Pangan Terkendali hingga Akhir 2026
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Menteri Perdagangan Budi Santoso optimistis harga pangan tetap terkendali hingga akhir 2026. Ia menyebut kenaikan harga cabai dipengaruhi penurunan produksi akibat cuaca, sementara sejumlah bahan pangan lain masih berada di sekitar atau di bawah harga acuan.

Untuk menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi, pemerintah akan berkoordinasi dengan produsen, pemasok, distributor, kementerian, lembaga, serta pelaku usaha pangan. Budi juga mengatakan pemerintah akan terus berupaya menjaga harga bahan pangan agar terkendali.

Budi menyebut harga cabai rawit merah berada di kisaran Rp70 ribu per kilogram, lebih tinggi dari harga acuan penjualan (HAP) sebesar Rp57 ribu per kilogram. Kenaikan itu, menurutnya, berkaitan dengan cuaca yang memengaruhi produksi. Kementerian Perdagangan telah berkomunikasi dengan asosiasi petani cabai untuk mendorong peningkatan produksi dan meminta distribusi dipercepat, terutama ke wilayah yang jauh dari sentra cabai.

Adapun harga telur tercatat sekitar Rp26.700 per kilogram, di bawah harga acuan Rp30 ribu per kilogram. Harga ayam sekitar Rp40 ribu per kilogram, sesuai dengan harga acuan yang berlaku.

Badan Pusat Statistik mencatat rata-rata harga cabai merah nasional mencapai Rp67.313 per kilogram pada minggu kedua Oktober 2026, naik 17,3 persen dibandingkan September. Harga cabai rawit mencapai Rp88.138 per kilogram, meningkat 11,85 persen.

Kenaikan harga cabai merah terjadi di 314 kabupaten/kota, sedangkan cabai rawit naik di 268 kabupaten/kota. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan kedua komoditas itu perlu diwaspadai karena harganya telah melampaui HAP.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.