bytedaily - Konflik geopolitik yang meningkat di Timur Tengah memaksa Amerika Serikat untuk mengalihkan aset pertahanan strategisnya. Laporan media Amerika Serikat, Newsweek, mengindikasikan bahwa Washington telah memindahkan sebagian sistem pertahanan udara Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dari Korea Selatan ke wilayah Timur Tengah. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya serangan yang dihadapi pasukan AS dan sekutunya di kawasan tersebut, yang dipicu oleh memanasnya hubungan dengan Iran.
Selain pemindahan sistem THAAD, Pentagon juga dilaporkan menarik rudal pencegat untuk sistem Patriot dari pangkalan di kawasan Indo-Pasifik. Keputusan ini menggarisbawahi tekanan yang dihadapi AS dalam menjaga kesiapan militernya di tengah eskalasi konflik regional. Peristiwa ini terjadi pasca serangan Iran terhadap Tel Aviv dan Yerusalem, serta penutupan Selat Hormuz, jalur krusial untuk pasokan minyak global. Akibatnya, pasokan amunisi dan rudal pencegat AS menghadapi tantangan pasokan yang semakin ketat.
Di sisi lain, pergerakan aset pertahanan AS ini menimbulkan kekhawatiran di Korea Selatan. Presiden Korsel Lee Jae Myung telah menyatakan penentangan terhadap pemindahan sistem pertahanan dari wilayahnya, mengingat potensi ancaman dari Korea Utara. Situasi ini menyoroti kompleksitas pengaturan keamanan regional dan bagaimana ketegangan di satu front dapat memengaruhi stabilitas di front lainnya, dengan implikasi potensial terhadap pasar energi global.