bytedaily - Fenomena astronomi komet C/2026 A1 (MAPS) yang diprediksi menarik perhatian berakhir tragis. Komet ini dilaporkan hancur saat mencapai titik terdekatnya dengan Matahari pada 4 April lalu, sebuah peristiwa dramatis yang mengakhiri perjalanannya.
Komet MAPS pertama kali terdeteksi pada 13 Januari 2026 oleh sekelompok astronom amatir di Chile yang menggunakan teleskop berdiameter 28 sentimeter. Penamaan MAPS sendiri merupakan singkatan dari nama belakang para penemunya. Keunikan komet ini telah menarik perhatian para ilmuwan sejak awal karena tingkat kecerahannya yang tidak biasa, bahkan saat masih berada pada jarak dua kali lipat Bumi ke Matahari.
Klasifikasi MAPS menempatkannya dalam keluarga Komet Kreutz Sungrazer, kelompok komet yang dikenal melintas sangat dekat dengan fatalitas Matahari. Para peneliti menduga komet-komet dalam kelompok ini merupakan fragmen dari sebuah komet raksasa yang pecah ribuan tahun silam. Data historis menunjukkan komet serupa pernah terlihat di masa lalu, bahkan dikaitkan dengan peristiwa astronomi pada 363 Masehi.
Observasi menggunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb yang dilakukan pada Februari 2026 mengungkapkan perkiraan diameter inti komet ini sekitar 400 meter, lebih kecil dari estimasi awal. Meskipun lebih kecil, ukurannya dinilai sebanding dengan komet C/2011 W3 (Lovejoy) yang berhasil bertahan dari lintasan serupa beberapa tahun lalu.
Saat mencapai titik perihelion pada 4 April 2026, MAPS hanya berjarak sekitar 160.000 kilometer dari permukaan Matahari. Jarak yang sangat dekat ini memaparkan komet pada suhu ekstrem dan gaya gravitasi kuat, yang menyebabkan fragmentasinya.
Sebelum hancur, komet MAPS sempat menampilkan ekor pendek dan koma berwarna hijau, yang indikasi adanya emisi karbon diatomik (C2). Warna hijau ini merupakan elemen umum yang sering ditemukan pada komet. Pasca-hancur, sisa orbitnya menempatkan posisi terdekat dengan Bumi pada jarak lebih dari 143 juta kilometer pada 5-6 April.