bytedaily - Serangan Israel terhadap ladang gas terbesar Iran, South Pars, di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat, telah menimbulkan kekhawatiran signifikan terhadap stabilitas pasokan energi global. Israel dilaporkan melanjutkan gelombang serangan ke fasilitas energi Iran, mengabaikan peringatan dari Presiden AS Donald Trump.
Dampak langsung terlihat pada pasar energi, di mana harga sempat melonjak tajam. Fasilitas energi Iran yang menjadi target serangan krusial, termasuk ladang gas South Pars dan fasilitas LNG Ras Laffan di Qatar, memproses sebagian besar pasokan energi dunia. Gangguan pada fasilitas-fasilitas ini berpotensi menyebabkan krisis energi global yang berkepanjangan.
Eskalasi konflik juga merambah ke kawasan Teluk, dengan laporan serangan rudal di Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Selain itu, pelabuhan utama Arab Saudi di Laut Merah juga dilaporkan menjadi sasaran. Ketegangan ini semakin memperburuk kekhawatiran akan potensi penutupan Selat Hormuz, jalur vital bagi seperlima pasokan minyak dunia.
Menanggapi situasi ini, beberapa negara Eropa dan Jepang telah menyatakan kesiapan untuk membantu mengamankan jalur pelayaran dan menstabilkan pasar energi, termasuk potensi peningkatan produksi. Namun, langkah konkret masih menunggu meredanya konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari dan menimbulkan korban jiwa serta mengguncang pasar energi internasional.