bytedaily
Kamis, 21 Mei 2026 - 07:11 WIB

Konsumsi Lebaran Genjot Pertumbuhan Ekonomi, Target 5,5 Persen Diramal Tercapai

Redaksi 21 Maret 2026 17 views
Konsumsi Lebaran Genjot Pertumbuhan Ekonomi, Target 5,5 Persen Diramal Tercapai
Ilustrasi: Konsumsi Lebaran Genjot Pertumbuhan Ekonomi, Target 5,5 Persen Diramal Tercapai

bytedaily - Pemerintah memproyeksikan target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,5 persen pada kuartal I 2026 akan tercapai, didorong oleh lonjakan konsumsi masyarakat selama periode Ramadhan dan Idul Fitri. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan optimisme ini berdasarkan geliat ekonomi yang teramati di masa-masa tersebut.

Meski demikian, Airlangga mewaspadai potensi tekanan inflasi yang mungkin lebih tinggi dibandingkan kuartal pertama tahun sebelumnya. Peningkatan ini diperkirakan terjadi karena tidak adanya lagi subsidi listrik yang sebelumnya membantu menekan inflasi pada Januari-Februari 2025. Tanpa diskon tarif listrik, pengeluaran rumah tangga untuk listrik akan kembali normal dan berdampak pada catatan inflasi yang lebih tinggi secara statistik.

Pemerintah tetap yakin bahwa peningkatan daya beli dan konsumsi yang kuat selama Ramadhan dan Lebaran akan mampu menahan laju inflasi dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Target pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I 2026 sendiri berada di kisaran 5,5 persen hingga 5,6 persen (year-on-year), yang ditargetkan akan didukung oleh percepatan belanja negara, stimulus fiskal, dan penguatan daya beli masyarakat.

Untuk mendukung pencapaian target tersebut dan menjaga daya beli, pemerintah telah menyiapkan sejumlah stimulus ekonomi pada kuartal I 2026. Insentif transportasi mudik Lebaran meliputi diskon tiket kereta api (30 persen), angkutan laut (30 persen), jasa penyeberangan (100 persen), dan potongan harga tiket pesawat (17-18 persen), dengan estimasi anggaran Rp 911,16 miliar. Selain itu, disalurkan pula bantuan pangan senilai Rp 12 triliun untuk 35,04 juta keluarga, serta pencairan Tunangan Hari Raya (THR) untuk sekitar 10,5 juta aparatur negara senilai Rp 55 triliun.