bytedaily - Konflik di Timur Tengah telah memicu kekhawatiran serius terhadap sektor penerbangan di Asia, terutama di Filipina. Pemerintah Filipina tidak menutup kemungkinan terjadinya penghentian operasional pesawat (grounding) jika krisis pasokan bahan bakar jet terus berlanjut. Hal ini diungkapkan oleh Presiden Ferdinand Marcos Jr., yang menyatakan bahwa grounding pesawat adalah "kemungkinan nyata" jika pasokan avtur terganggu akibat eskalasi perang di Iran.
Marcos memaparkan bahwa beberapa negara telah menginformasikan kepada maskapai Filipina mengenai ketidakmampuan mereka menyediakan bahan bakar, memaksa maskapai untuk membawa bahan bakar sendiri untuk penerbangan pulang-pergi. Penerbangan jarak jauh diperkirakan akan menjadi yang paling terdampak oleh situasi ini. Meskipun pemerintah berharap skenario terburuk dapat dihindari, risiko tersebut tetap ada di tengah kekhawatiran akan terulangnya krisis minyak seperti era 1970-an.
Situasi ini berdampak pada maskapai di Asia, termasuk Filipina yang rentan akibat ketergantungan impor minyak mentah dari Timur Tengah. Maskapai Cebu Air telah mengumumkan rencana pengurangan penerbangan mulai awal April menyusul kenaikan harga bahan bakar. Maskapai di Vietnam juga mengambil langkah serupa, dengan Vietnam Airlines menghentikan rute domestik dan VietJet mengurangi frekuensi penerbangan. Bamboo Airways juga mengisyaratkan kemungkinan pengurangan layanan jika harga minyak terus meroket.
Meskipun demikian, Kementerian Energi Filipina menyatakan bahwa maskapai masih memiliki pasokan bahan bakar yang memadai saat ini dan telah berkoordinasi untuk memastikan kebutuhan terpenuhi. Namun, ketidakpastian global masih membayangi potensi gangguan operasional penerbangan di kawasan tersebut.