bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, tercatat memiliki kualitas udara terburuk di Indonesia pada Kamis (20/8) pagi. Kondisi ini disebabkan oleh meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah sekitarnya.
Menurut data situs pemantau kualitas udara IQAir per Kamis (20/8) pukul 06.56 WIB, Pontianak memperoleh skor 191, yang dikategorikan sebagai 'tidak sehat' (Unhealthy). Konsentrasi partikel halus PM2,5 di Pontianak mencapai 112µg/m³, atau 22,4 kali lipat dari standar yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). PM2.5, partikel udara berukuran kurang dari 2,5 mikron yang umumnya berasal dari emisi kendaraan dan industri, berpotensi masuk ke aliran darah saat terhirup dan menimbulkan ancaman kesehatan.
Menyikapi kualitas udara yang memburuk, IQAir menyarankan warga Pontianak untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, menutup jendela rumah, dan menggunakan masker jika terpaksa beraktivitas di luar. Selain Pontianak, beberapa daerah lain di Indonesia juga dilaporkan mengalami kualitas udara dalam kategori tidak sehat pada waktu yang sama.
Kabut asap akibat karhutla telah menyelimuti Kota Pontianak dalam beberapa waktu terakhir, menyebabkan penurunan kualitas udara yang membahayakan. Pemerintah Kota Pontianak telah menetapkan status darurat karhutla untuk memperkuat penanganan dan koordinasi lintas sektor. Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menyatakan bahwa penetapan status ini bertujuan untuk meningkatkan kolaborasi dalam pencegahan kebakaran serta penanganan dampak kesehatan masyarakat.
Asap akibat karhutla dilaporkan sangat pekat pada pagi dan malam hari. Berdasarkan pantauan alat pengukur kualitas udara di Kecamatan Pontianak Tenggara, kondisi udara pada Senin (10/8) malam, sekitar pukul 21.00 hingga 23.00 WIB, berada dalam kategori tidak sehat. Laporan pada 10 Agustus juga mencatat 4.041 titik panas kebakaran di wilayah Kalimantan Barat, dengan mayoritas berada pada tingkat menengah hingga tinggi. Kabut asap yang berdampak pada kualitas udara Pontianak juga dipengaruhi oleh kebakaran lahan di kabupaten tetangga seperti Ketapang, Kubu Raya, Kayong Utara, dan Landak, yang asapnya terbawa angin menuju kota tersebut.