bytedaily - Menurut laporan bbc.com, kembalinya Jose Mourinho ke Real Madrid telah memicu berbagai pertanyaan, salah satunya adalah bagaimana ia akan mengelola hubungannya dengan Vinicius Junior. Hubungan keduanya akan menjadi salah satu aspek yang paling diawasi selama periode kedua Mourinho di Santiago Bernabeu.
Mourinho telah menandatangani kontrak tiga tahun dengan Real Madrid, namun kontrak tersebut baru akan berlaku jika presiden klub saat ini, Florentino Perez, memenangkan pemilihan presiden pada 7 Juni. Pelatih asal Portugal tersebut sempat berhadapan dengan Real Madrid saat membesut Benfica di Liga Champions pada Februari lalu.
Setelah leg pertama babak gugur, Mourinho menuai kritik atas komentarnya mengenai perilaku Vinicius Junior. Pemain asal Brasil itu menuduh pemain sayap Benfica, Gianluca Prestianni, melakukan pelecehan rasial, tuduhan yang dibantah keras oleh Prestianni. Mourinho kini akan melatih salah satu talenta terbaik sepak bola dunia, sekaligus salah satu pemain yang paling banyak mendapat sorotan.
Manajer ini dikenal membangun kesuksesannya di atas kepercayaan, loyalitas, dan koneksi dengan para pemainnya. Namun, hubungannya dengan Vinicius berpotensi menjadi narasi penentu dalam masa jabatannya kali ini. Saat pertandingan antara Real Madrid dan Benfica di Liga Champions pada Februari, Vinicius sempat membawa Real Madrid unggul 1-0 di babak kedua sebelum mendapatkan kartu kuning karena selebrasi berlebihan di dekat tiang sudut.
Beberapa saat kemudian, setelah berinteraksi dengan Prestianni, Vinicius berlari menghampiri wasit sambil menunjuk ke arah pemain Benfica tersebut. Wasit kemudian memberikan gestur tangan menyilang yang menandakan adanya laporan pelecehan rasial, mengaktifkan protokol anti-rasisme UEFA, dan menghentikan pertandingan selama hampir 10 menit akibat meningkatnya ketegangan di stadion. Vinicius dan beberapa rekan setimnya meninggalkan lapangan.
Real Madrid mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan bahwa Vinicius memberi tahu wasit bahwa ia telah dilecehkan secara rasial oleh pemain asal Argentina tersebut, yang dibantah oleh Prestianni. UEFA kemudian menangguhkan pemain Benfica tersebut untuk leg kedua sambil menunggu investigasi. Prestianni akhirnya dijatuhi hukuman enam pertandingan, meskipun bukan karena pelecehan rasial, karena UEFA menyatakan tidak ada cukup bukti untuk membuktikan dugaan tersebut. Hukuman tersebut justru terkait dengan hinaan homofobik yang diakui Prestianni ditujukan kepada Vinicius.
Mourinho terlihat berbicara dengan Vinicius setelah pemain itu meninggalkan lapangan pasca interaksi dengan Prestianni. Namun, komentar Mourinho setelah pertandingan yang paling mengejutkan. Sambil secara publik mendukung pemainnya, Prestianni, Mourinho menyarankan bahwa Vinicius telah memicu ketegangan melalui selebrasinya di depan pendukung tuan rumah.
"Kamu mencetak gol luar biasa, mengapa merayakannya seperti itu?" kata Mourinho. "Hal yang sama selalu terjadi di banyak stadion. Di berapa banyak negara ini terjadi? Di berapa banyak stadion? Berapa? Berapa? Dia pemain luar biasa, saya menyukainya. Vinicius memberitahu saya satu hal dan Prestianni memberitahu saya hal lain. Saya ingin bersikap seimbang."
Komentar tersebut memicu kritik luas, banyak yang menuduh Mourinho mengalihkan perhatian dari tuduhan rasisme dan justru membebankan tanggung jawab kepada korban. Selain menyatakan keyakinannya bahwa Vinicius telah menunjukkan ketidak hormatan dengan selebrasi golnya, ia juga menunjuk striker legendaris Benfica, Eusebio, sebagai bukti bahwa Benfica bukanlah klub rasis.
Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi bbc.com.