bytedaily
Selasa, 19 Mei 2026 - 20:31 WIB

Mengenal Beragam Jenis dan Tingkatan Bahan Bakar Diesel

Redaksi 25 April 2026 16 views
Mengenal Beragam Jenis dan Tingkatan Bahan Bakar Diesel
Ilustrasi visual (Sumber: jalopnik.com)

bytedaily - Dilansir dari jalopnik.com, meskipun pompa bensin di Amerika Serikat umumnya hanya menyediakan satu jenis nozzle untuk solar, sebenarnya terdapat beberapa tingkatan dan campuran bahan bakar diesel yang berbeda. Proses penyulingan solar yang kompleks menghasilkan berbagai tingkatan dan campuran, meskipun konsumen umumnya hanya menggunakan satu jenis yang umum tersedia di stasiun pengisian bahan bakar.

Tingkatan pertama adalah diesel #1 (1-D), yang memiliki titik tuang lebih rendah dan dirancang untuk suhu sangat dingin, bahkan hingga -40 derajat Fahrenheit. Bahan bakar ini memiliki volatilitas lebih tinggi dan viskositas lebih rendah dibandingkan tingkatan lain. Sementara itu, tingkatan yang paling umum dijual adalah diesel #2 (2-D). Jenis ini lebih efisien dibandingkan #1 dan cocok untuk berbagai penggunaan, namun tidak tahan dingin sebaik #1, cenderung mengental pada suhu sekitar 10 derajat Fahrenheit. Di Amerika Serikat, tidak ada diesel tingkatan #3, namun terdapat tingkatan #4 (4-D) yang mayoritas digunakan untuk kendaraan laut dan aplikasi non-kendaraan seperti boiler.

Selain tingkatan tersebut, terdapat pula biodiesel dan berbagai campuran khusus. Ultra-low sulfur diesel (ULSD) diproduksi untuk mengurangi emisi, khususnya nitrogen oksida dan partikulat yang dapat berdampak buruk pada kesehatan. Diesel yang di-winterisasi (winterized diesel) merupakan campuran antara #1 dan #2 untuk meningkatkan ketahanan terhadap dingin. Sedangkan red diesel adalah bahan bakar untuk kendaraan off-road seperti traktor dan buldoser.

Perbedaan utama antara tingkatan diesel terletak pada komposisinya. Diesel #1 (1-D) dibuat khusus untuk cuaca dingin karena tidak mengandung lilin parafin yang dapat menyebabkan pengentalan bahan bakar. Namun, ketiadaan lilin ini membuatnya kurang baik dalam melumasi dibandingkan jenis lain, serta memiliki efisiensi dan viskositas yang lebih rendah. Jenis ini direkomendasikan untuk truk komersial saat cuaca sangat dingin.

Diesel #2 (2-D) adalah jenis yang paling sering ditemui di pasaran. Tingkatan ini lebih efisien dibandingkan #1, menghasilkan jarak tempuh yang lebih baik, dan memiliki kemampuan pelumasan yang lebih unggul berkat kandungan lilin parafin. Namun, lilin parafin inilah yang menyebabkan solar mengental di suhu dingin. Meskipun demikian, diesel #2 memiliki fleksibilitas penggunaan yang luas dan umumnya digunakan pada cuaca hangat.

Tingkatan #4 (4-D) umumnya tidak digunakan untuk kendaraan bermotor, melainkan untuk aplikasi non-otomotif seperti perahu, tungku pemanas, dan boiler. Bahan bakar ini tidak bekerja baik di suhu dingin, namun memiliki kemampuan pelumasan yang baik karena volatilitasnya rendah, sehingga ideal untuk mesin berbeban berat dengan kecepatan rendah.

Selain tingkatan yang berbeda, terdapat pula campuran khusus seperti diesel yang di-winterisasi. Campuran #1 dan #2 ini mempertahankan sebagian besar komponen energi dan kemampuan pelumasan, namun jauh lebih kecil kemungkinannya untuk mengental di musim dingin, dengan sedikit penurunan efisiensi dibandingkan diesel #2 murni.

Ada pula diesel yang dirancang khusus untuk penggunaan di luar jalan raya, seperti pada mesin pertanian atau konstruksi, yang tidak legal untuk digunakan di jalan raya. Keunggulan utamanya adalah harganya yang jauh lebih murah. Bahan bakar ini diberi pewarna merah, sehingga dikenal sebagai red diesel, red dye, atau dyed diesel.


Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi jalopnik.com.