bytedaily - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan kekhawatiran mengenai dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap perekonomian Indonesia berlebihan. Menurutnya, lonjakan harga minyak hingga US$150 per barel justru akan memberikan tekanan signifikan pada Amerika Serikat, bahkan berpotensi menggulingkan pemerintahan Presiden Donald Trump.
Purbaya menekankan bahwa gejolak di Timur Tengah, meskipun menyebabkan fluktuasi harga minyak, tidak serta-merta akan menyeret Indonesia ke jurang resesi. Ia optimistis harga minyak tidak akan mencapai level US$200 per barel yang dikhawatirkan oleh sebagian kalangan ekonom.
"Sekarang saja Amerika sudah kelabakan. Dengan harga minyak 100 dolar saja, BBM mereka naik hampir 100 persen dan rakyatnya mulai marah. Jika harga bisa sampai US$150 per barel, Trump yang akan jatuh, bukan kita. Kita masih dijaga di sini," ungkap Purbaya di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Rabu (25/3).
Menkeu juga menyanggah prediksi sejumlah ekonom yang meramalkan resesi ekonomi Indonesia akibat kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah. Ia menganggap pernyataan tersebut lebih sebagai upaya menciptakan sentimen negatif di tengah masyarakat ketimbang kritik konstruktif yang berdasarkan analisis ekonomi yang kuat.
"Saya tidak anti kritik, tapi jangan membuat pernyataan yang menakut-nakuti masyarakat seperti 'dua bulan lagi ekonomi Indonesia akan hancur, akan resesi'. Jika harga minyak menyentuh US$200 per barel, seluruh dunia yang akan resesi. Tenang saja, tidak perlu pusing," tegasnya.
Purbaya menyoroti perlunya analisis ekonomi yang didukung oleh data estimasi yang jelas dan terukur. Menurutnya, ekonom yang kredibel akan menyajikan angka berdasarkan perhitungan yang matang, menggunakan data historis dan metode ilmiah lainnya.