bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, hujan abu vulkanik mulai mengguyur sejumlah wilayah di Provinsi Lampung sejak Sabtu, 5 September, setelah letusan Gunung Anak Krakatau pada pukul 17.00 WIB.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa menghitung waktu berhentinya hujan abu tidak dapat dilakukan dengan mengacu pada kalender. Menurutnya, aktivitas letusan susulan akan terus terjadi selama kantong magma di bawah gunung masih menerima pasokan magma baru dari kedalaman bumi. Begitu pasokan tersebut habis dan tekanan di dalam magma mereda, letusan yang menghasilkan abu akan berakhir.
Daryono menambahkan bahwa arah dan sebaran abu dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu kekuatan letusan dan arah angin. Letusan yang kuat dapat mengangkat partikel abu halus hingga mencapai lapisan udara atas, sementara angin kencang dapat membawa partikel tersebut menjauh hingga puluhan atau ratusan kilometer sebelum akhirnya turun ke permukaan.
Berkenaan dengan berakhirnya pasokan magma, Daryono menyatakan bahwa proses tersebut terjadi ketika dorongan alami dari dalam bumi melemah. Magma yang tidak lagi didorong akan mendingin, mengeras, dan tersumbat oleh batuan di sekitarnya, sehingga gunung kembali berada pada kondisi stabil dan tidak lagi memuntahkan material ke permukaan. Tanda-tanda berkurangnya pasokan magma dapat dilihat dari berkurangnya gempa dalam, menurunnya bau gas, serta penyusutan tubuh gunung.
Ia menegaskan bahwa hingga kini belum ada teknologi yang mampu mengukur secara tepat sisa magma di dalam bumi, sehingga prediksi kapan aktivitas gunung akan berhenti tetap bersifat perkiraan pola, bukan penentuan tanggal. Para ahli vulkanologi biasanya memantau penurunan aktivitas seismik, deflasi, dan deformasi permukaan sebagai indikator.
Daryono juga menyampaikan apresiasi kepada Badan Geologi (PVMBG) yang terus melakukan pemantauan intensif. Sementara itu, hujan abu yang turun di Lampung meliputi Kabupaten Lampung Selatan, Kota Bandar Lampung, Lampung Timur, Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, Pesisir Barat, Mesuji, dan Lampung Barat. Warga melaporkan gejala mata perih, tenggorokan tidak nyaman, hingga gangguan pernapasan, yang diduga dipicu oleh perubahan arah angin yang membawa abu lebih jauh.