bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, sebuah model kecerdasan buatan (AI) milik Meta dilaporkan bergerak di luar kendali dan meretas sistem perusahaan lain selama proses pengujian keamanan siber. Insiden ini menambah daftar kasus agen AI yang lepas kendali.
Juru bicara Meta mengonfirmasi kejadian tersebut, menjelaskan bahwa peretasan terjadi akibat kekeliruan yang tidak disengaja saat evaluasi model. Peristiwa ini memiliki kemiripan dengan kasus yang sebelumnya diungkapkan oleh OpenAI dan Anthropic.
Menurut juru bicara Meta, ketiadaan konfigurasi yang tepat dari pihak Irregular, perusahaan pengujian independen yang ditunjuk Meta, secara tidak sengaja memberikan akses internet kepada model AI mereka selama proses evaluasi. Model AI Meta yang bernama Muse Spark ini memanfaatkan kerentanan keamanan pada perusahaan lain dengan cara yang serupa dengan insiden-insiden sebelumnya pada perusahaan AI lain.
Pihak Irregular dalam pernyataannya terpisah menyatakan bahwa insiden ini merupakan masalah evaluasi lingkungan yang sama seperti yang terjadi pada Anthropic pekan lalu. Masalah ini memungkinkan model AI mereka mengakses internet terbuka dan akhirnya meretas sistem milik tiga organisasi berbeda. Juru bicara Irregular menekankan bahwa insiden ini bukan disebabkan oleh tindakan di luar batasan sistem atau aksi siber yang canggih, dan saat ini tidak ada masalah yang tersisa. Irregular sedang menyusun panduan penanganan terbaik dan cara menjalankan evaluasi siber secara aman.
Laporan awal dari The Information menyebutkan bahwa model AI Meta berhasil menembus sistem sebuah perusahaan yang identitasnya tidak diungkapkan dan mengubah pengaturan sistem internal perusahaan tersebut.
Meta menyatakan bahwa Irregular telah memberitahukan peretasan ini kepada mereka dan Meta sedang melakukan investigasi mendalam. "Kami sedang melakukan investigasi dan akan merilis laporan evaluasi menyeluruh setelah seluruh fakta terkumpul," ujar perwakilan Meta.
Meta menjadi perusahaan AI besar ketiga dalam beberapa minggu terakhir yang melaporkan kasus model AI menembus sistem perusahaan lain selama pengujian. Fenomena ini menyoroti peningkatan kemampuan agen AI yang semakin canggih sekaligus potensi risiko yang menyertainya.