bytedaily - Momen pencairan tunjangan hari raya (THR) seringkali dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk melancarkan aksinya, terutama melalui metode phishing. Peningkatan aktivitas pembayaran digital selama periode ini menciptakan peluang bagi penipu untuk menyusupkan tautan berbahaya yang dapat menguras rekening korban.
Sebuah laporan dari VIDA menyoroti bahwa lonjakan kasus penipuan digital kerap terjadi bertepatan dengan periode pencairan dana massal seperti THR. Pola serupa juga teramati pada periode pencairan gaji bulanan, yang dikenal sebagai 'payday pulse', menunjukkan bahwa skema penipuan semakin terencana dan memanfaatkan momentum penting.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengidentifikasi aplikasi pesan instan dan media sosial sebagai kanal utama penyebaran penipuan. Data menunjukkan bahwa sebagian besar laporan aduan terkait rekening bank dan dompet digital yang terindikasi digunakan dalam tindak penipuan berasal dari aplikasi pesan, diikuti oleh media sosial. Kemudahan akses dan kepercayaan masyarakat terhadap kanal-kanal ini dimanfaatkan pelaku untuk menyebarkan pesan, tautan, atau dokumen palsu yang terlihat meyakinkan.
VIDA mengingatkan bahwa satu tautan palsu dapat memicu pencurian data atau pengambilalihan akun dalam hitungan detik, terutama di periode rawan seperti pencairan THR. Oleh karena itu, kampanye edukasi seperti "Jangan Asal Klik" diluncurkan untuk meningkatkan kesadaran digital di berbagai kalangan usia.
Menghadapi ancaman ini, masyarakat dihimbau untuk menerapkan langkah-langkah keamanan digital. Badan Siber dan Sandi Nasional (BSSN) menyarankan untuk selalu berbelanja melalui toko resmi atau penjual terpercaya, menghindari transfer langsung ke rekening pribadi, dan menggunakan jaringan internet yang aman, jauh dari Wi-Fi publik saat bertransaksi data sensitif. Selain itu, menjaga privasi dengan tidak mengunggah data sensitif ke media sosial juga merupakan langkah penting untuk melindungi diri dari potensi penyalahgunaan.